Tadi malam sehabis nonton dokumentasi tentang tsunami setahun lalu, kemudian membaca The Alchemist-nya Paulo Coelho sebelum tidur.

Aku mimpi tragis dan dalam tidurku, kupikir itulah realita.

Aku kembali ke aceh dan mendapati diriku ikut mengangkati mayat2 korban tsunami.. bau mayat yang begitu nyata, hingga berkali-kali secara sadar aku menutup hidungku dengan bantal guling tidurku. Mayat-mayat itu sedemikian banyaknya berserakan di tepi pantai dan aku terus menerus menangis. Jadi teringat kembali rekaman kamera film dokumenter itu. mayat membusuk seorang ibu dan anak didekapannya.. Ya Allah, akulah si beruntung nggak tau diri yang lupa terus untuk bersyukur. mungkin mayat itu ibu dari keluarga angkatku, yang hampir seluruh keluarga angkatku hilang setelah tidak sempat menyelamatkan diri bersama yang lain.

Tapi ada satu bagian mimpiku yang terus terbayang.. saat aku menarik seorang anak perempuan yang masih hidup dan menasehatinya karena dia sudah nggak punya keinginan untuk hidup lagi setelah semua yang menimpa dirinya.

Baru setelah bangun aku memikirkannya. mungkin sekali perempuan kecil dengan baju hijau itu adalah representasi diriku yang jumud dan putus asa dengan semua masalah yang telah kuhadapi. Tapi aku mengingatkan anak itu dengan merangkul lehernya dan mengajaknya berkeliling setelah ia mencoba bunuh diri lagi di laut, dan aku muak melihatnya: Cuma pengecut yang lari dari tanggung jawab yang diberikan Tuhan padanya. Kamu tahu, begitu kamu lahir, Tuhan punya rencana untukmu. Lalu, kenapa kamu mau seenaknya saja mengakhiri semua itu sebelum merasakan kebahagiaan? Kalo kamu nggak dapat hari ini, bukan berarti Tuhan nggak ngasih, dan nggak ada. Bisa besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan. Kamu pasti mau kan merasakan itu. setelah apa yang kamu alami selama ini, kamu nggak boleh menyerah hanya karena hal-hal sepele. Ada alasan yang menyebabkan Tuhan menyelamatkanmu hari ini aku terus berbicara dengan anak itu dengan nada yang sedikit tinggi, tapi lembut. Dalam hatiku, aku marah sekali.

Aku jadi teringat lagi kata-kata raja salem pada anak pengembara dalam buku the alchemist. kau tahu, yang membuat hidup menarik, adalah kemungkinan manusia untuk mewujudkan mimpinya. Yah, tapi dalam mimpi kali ini, akulah siraja salem, dan anak itu adalah si pengembara.

Hari ini, dengan segala kelemahan aku, si manusia super tak berguna yang-sekalilagi- lupa untuk bersyukur setelah apa yang tidak menimpaku, dan jawilan lembut Allah berikan padaku dalam wujud mimpi itu, setelah setahun aku diperingatkan -dan aku masih belum bangun juga- dari mimpi-kenyataan dunia hedonis, hura-hura yang kulalui dengan berkedok rasa manusia, dalih bahwa seorang manusia diberkahi (atau malah dikutuk?) dengan rasa lupa, yang membuatku terus bisa bersenang-senang, melupakan rasa sakitnya, walau kemaren telah dicambuk hingga berdarah-darah. Justifikasi akan segala kebodohan yang terus aku ulangi seperti film klise yang terus menerus diputar berulang-ulang tanpa pernah membuat bosan pemirsanya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?