Tadi siang aku ketemu seorang teman lama, yang sering kujumpai sih sebetulnya. Dan untuk kesempatan yang jarang, kami mengobrol panjang lebar tentang hidup. Hidup? Kelihatannya berat. Tapi diskusi ini tentu membuatku sadar akan beberapa hal. Temanku ini mulai bicara tentang tujuan hidup, apa mimpi cita-citanya, semua harapan yang ingin dicapai (yah, walaupun sesekali diselipi dengan ilmu yang ehmm, -kelihatannya- berguna. tentang G-Spot wanita misalnya, atau kemungkinan dia punya kecenderungan psikopat. heheh) 😀

Dari sini, aku bisa menilai orang, kalaupun tidak, diriku sendiri, bahwa ternyata aku jauh dari harapan. Aku terlalu santai. Aku belum punya tujuan hidup yang rinci, semisal akan seperti apa aku 10 tahun kedepan, kehidupan apa yang ingin aku raih. Ternyata temanku telah merencanakan dengan detail. Menarik juga mendengarkan omongannya “Berapa mobil yang aku punya”. Aku tau itu bagus, dan aku tau dia punya kemampuan untuk mewujudkannya.

Bergaul lama dengan teman seperti dia, aku yakin dia bisa, dan terlihat dia menikmati proses ke arah itu, dan aku cuma bisa menasehatinya bahwa sebaiknya emang dia tidak terjebak dengan cita-citanya yang terlalu rinci, sehingga dia tidak akan pernah puas (oh tidak, bukannya cepat puas itu tidak bagus), namun setidaknya, dia tidak kecewa kalaupun apa yang diraihnya nggak 100% sama seperti mimpinya. Sekali lagi, aku tau dia nggak akan seperti itu, tapi, membayangkan kemungkinannya saja membuatku merasa enggak enak, terasa terlalu ambisius, atau gimanalah. seperti tidak mensyukuri apa yang diberikan Allah kedengarannya. Dan emang aku mengerti maksudnya, seperti jika kita ingin sampai ke graha sabha, bukankah akan lebih cepat sampai jika kita menanyakan “Pak, tau arah ke graha Sabha tidak?” daripada sekedar bertanya kepada orang dengan pertanyaan yang terlalu general, “alamat gedung yang bertingkat dan mirip joglo itu loh pak..” Begitulah kira-kira kata dia.

Tujuan hidup yang jelas memang memudahkan kita memikirkan cara untuk bisa sampai kesana, daripada sekedar berangan-angan dan membiarkan hidup mengalir. Daripada hanya sebuah harapan omong kosong, lebih baik sebuah rencana hidup matang, dan pikirkan cara untuk sampai kesana.. terkesan mudah ya, Wallahu a’lam. Aku mau mencobanya, ah.

Setelah pikiran itu sampai, tiba-tiba aku jadi pengecut lagi, dengan memikirkan kemungkinan aneh, sepeti misalnya “ah, dia kan (calon) dokter, mudah baginya menentukan pilihan.”. “Begitu selesai Ko-as, lalu ngambil spesialis ini, maka setelah mendapat lisensi dan buka praktek, otomatis mimpinya sudah terwujud” nah, dilain pihak, aku, kemungkinan untuk jadi apa? Seorang calon lulusan ilmu komputer, akan jadi apa? Terlalu banyak kemungkinan yang tercipta, dengan pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Sedangkan belum jelas ke arah mana aku mau melangkah, aku telah memasang target duluan. aku seperti tersesat dihutan belantara yang walaupun tahu jalan keluarnya adalah dengan berjalan terus ke arah utara, namun sayangnya aku buta arah, nggak tau arah utara itu kemana. Mungkin juga seperti garis dalam bidang kartesius, yang jika dari koordinat 0,0 aku telah melenceng sepersekian derajat, pada jarak tertentu aku sudah berada jauh menyimpang dari titik targetku semula. Wuah, nggak taulah, mungkin yang cocok bagiku adalah target-target jangka pendek. Mudah-mudahan tercapai. Life goes on..

Oh iya, target jangka pendekku adalah menyelesaikan TA dan lulus di kuartal akhir tahun ini. Insya Allah