Nggak ada salahnya jadi islam yang fundamentalis,kalau pengertian dari fundamental kita kembalikan ke istilah bahasa, yaitu, Islam dasar. Dimana kta menerapkan aturan-aturan yang islami dalam kehidupan sehari-hari. Aku selalu kagum pada orang yang istiqamah pada keislamannya, selalu shalat tepat waktu atau tiap berbicara selalu menyenangkan dan mengingat Allah, misalnya.

Terus kenapa kita dibenci oleh orang islam sendiri, karena ada kelompok eklusif (kalo nggak mau dibilang ekstrim) yang menjalankan ibadahnya, seolah-olah, apa yang dijalankannya saja yang disebut muslim sejati, dan hanya mereka yang masuk syurga, itulah mengapa ada temanku yang bilang, dahulu, begitu masuk ke masjid rasanya damai sekali, namun tahun-tahun belakangan ini, dengan semakin berkembangnya mainstream kelompok islam eklusif tadi, yang berbasis di mesjid-mesjid, membuat masjid tidak lagi tempat yang nyaman bagi orang mukmin lain, bayangkan, masuk kemasjid dan shalat, hanya karena memakai kaus oblong bergambar misalnya, udah ditatap sinis sama sesama muslim lain, seolah-olah kita ini adalah bahan bakar neraka, padahal kita adalah sesama muslim, sesama menyembah Allah, dan sama-sama mau melakukan shalat. Nau’udzubillah, padahal, nggak ada sesama muslim yang berhak mengatakan orang lain itu kafir, murtad.

Kalo memang setiap orang menjalankan Islamnya sesuai dengan pengertian dia sendiri, Islam mengenalkna toleransi pada tiap-tiap muslim. Jika ia menyimpang dari ajaran Islam, ada tata cara yang baik dan menyenangkan untuk mengingatkan. Makanya, sosok Rasul juga adalah seorang lembut dan penyabar, penyayang. Bahkan ketika ia memasamkan wajahnya saja, Allah udah mengingatkan Rasul.

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,

2. Karena Telah datang seorang buta kepadanya[1554].

3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),

4. Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,

6. Maka kamu melayaninya.

7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

9. Sedang ia takut kepada (Allah),

10. Maka kamu mengabaikannya.