Lagi-lagi ini soal mimpi. Apa artinya sebuah mimpi, hanya kembang tidur. Atau bagi Freud, Cuma “Kondisi dari sistem tubuh kita yang mencegah kita bangun”. Tapi, ada beberapa mimpi dimana itu bukan sekedar mimpi. Mimpi Yusuf AS. Yang menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan misalnya. Atau bagi kita, mimpi bertemu Rasul. Bagiku, mimpi berarti kondisi keadaan tubuh kita yang menginginkan sesuatu. Suatu representasi dari apa yang kita rasakan, atau ingin kita rasakan. Tentu saja itu bukan sekedar metafora. Karena dari sanalah kata mimpi menjadi perumpamaan untuk sebuah cita-cita. Lalu, apa hubungannya dengan mimpi yang akan aku bahas?

Ini terkait (seperti kataku tadi) dengan kondisi rindu. Atau mungkin Cuma bisikan setan yang iseng menebarkan benang jeratnya dalam tidurku. Aku bermimpi tentang orang itu. Siapa? Nggak perlu diungkit. Seorang masa lalu yang keadaannya nggak mungkin aku raih saat ini. Tentang kasih-tak-sampai-kah?(bahasanya jadul berat…) Teman yang hilang? Saudara jauh? Keluarga? Pertanyaan itu jawabannya nggak bakalan ada dalam blog ini. Tapi intinya, seseorang yang kutakutkan jadi bagian masa lalu yang tragis. Dan, aku nggak bisa menolak kehadiran dia sebagai figur penting dalam perkembangan hidupku hingga saat ini. Duh. Beratnya. Bukti bahwa aku rindu, dan itu udah cukup. Aku bukan orang dengan kisah luar biasa tentang hidup. Tapi, beberapa keinginan cuma bisa terwujud dalam bentuk mimpi. Enah kenapa itu bisa hadir tadi malam, aku nggak ngerti, bahkan aku ‘seharusnya’ sudah melupakan orang itu dan kembali pada realitas. Apa-apa yang bisa aku raih saat ini. Entah kapan, mungkin keinginan mimpi itu bisa terwujud. Syukur jika iya, dan jika tidak, pasti Allah punya takdir yang aku yakin lebih baik bagi diriku. Hey, bukannya aku pesimis.

Aku percaya pada takdir dan ketetapan Allah. Dan sudah berusaha mengubahnya sesuai keinginanku. Itu cukup baik. Setidaknya buatku. Karena, mimpi itu terlalu manis untuk diingat (haha. Mimpi itu bukan apa-apa. Tapi esensi dari apa yang terkandung didalamnya, atau apa yang diolah oleh pikiranku yang bisa mengakibatkankan mimpi itu hadir, itu yang harus dipertanyakan). Bukan dengan melihat primbon-primbon tafsir mimpi, tapi kepada diri sendiri. Apa, mengapa, bagaimana?