Ayo kita bicara tentang setan.

Apa yang bakal pertama kali kamu lakukan ketika pada suatu hari ada yang mengetuk pintu rumahmu, dan ketika kamu bukakan, yang mengetuk pintu adalah setan?

Mungkin kamu bakal mengusirnya. atau menutup pintu kembali, atau bahkan mempersilahkan dia masuk untuk beramah tamah. Itu kalau kamu memang pemuja setan atau sekedar pingin tau lebih banyak tentang dunianya agar nggak terjebak sama trik-trik dia, atau mungkin juga karena rasa kasihan sebagai sesama makhluk Tuhan. akan tetapi, coba aku ajukan satu pertanyaan ini, dan kita masing-masing harus jujur sama diri kita. apakah kita mau bersamanya sebentar saja, dan melupakan kalau dia adalah makhluk yang telah direndahkan Allah derajatnya dari cahaya menjadi api, makhluk yang tadinya mulia, dan kini pekerjaannya hanya menjerumuskan manusia?

Mungkin kita membenci dia atas segala dosa yang kita lakukan. Atas petunjuk dialah kita melakukan berbagai perbuatan yang membuat kita malu dihadapan Allah. Tapi, mungkin juga tidak. Ingat bulan Ramadhan? bulan dimana semua setan dirantai dan yang kita lawan “cuma” nafsu kita. tapi aku seringkali mendapati aku (dan mungkin anda juga) melakukan semua perbuatan seperti hari-hari biasa. Dengan dosa-dosa yang itu-itu juga. Yakinlah ini bukan campur tangan dari si dia, tapi dari dorongan nafsu kita sendiri. Lalu Zuh, apa hubungannya dengan setan yang mengetuk pintu kita tadi? Iya, jawabannya adalah kadangkala kita mungkin terlalu membenci sesuatu yang menyebabkan segala hal buruk pada diri kita, dan cenderung menyalahkan semua yang ada di dunia ini, semuanya kecuali kita sendiri. kita terlalu memandang benci pada setan padahal potensi “ke-setan-an” itu juga tertanam dalam diri kita. Mau bukti? Telusuri ramadhan-ramadhan kita yang telah berlalu.

Esensi dari setan adalah membangkitkan potensi itu, dan selanjutnya ia berlepas tangan. Mungkin setelah dia mengetuk pintu rumah kita, dia cuman berkata, aku cuma sekedar mampir dan melihat hasil dari biji yang dulu kutanam pada dirimu. Aye. Lihatlah dirimu sekarang.

Hari ketika pintu kita menyambut setan itu adalah hari dimana sang murid -kita- telah melampaui sang guru:setan. Setan mungkin masih takut pada Penciptanya, Allah yang maha Perkasa, dan memikirkan Allah setiap hari. Tapi kita, begitu mudahnya tergoda dan bahkan Tuhan pun kita tentang dengan terang-terangan. Apa yang mau kita harapkan? Bahkan setan pun mungkin akan tertawa sinis…