Akhir-akhir ini marak sekali persoalan tentang RUU APP yang mengatur tentang pornografi. Kita dipecah dua kubu. mendukung, atau nggak.

Sebelum buru-buru ikut membuat spanduk dan turun ke jalan, ayo sama-sama kita merenung lagi. Kadang-kadang kita terasa terlalu overreaktif dalam menyikapinya. Bukannya nggak mendukung RUU tesebut. Tapi, kita sering lupa bahwa kita hidup dalam masyarakat yang plural, dimana setiap orang tidak bisa harus sependapat dengan kita. Begitu ada yang menolak RUU itu, otomatis kita bilang dia “Setan!”.

Emang sih, maksud dari RUU APP itu baik, dan perlu kita dukung. Toh akan tetapi keputusannya masih kontroversial di mata masyarakat luas. Kita jangan hanya memandang dari segi hukum saja. Itu baru satu langkah awal. Kalaupun tidak ada hukum, (dan di Indonesia, hukum adalah hukum, sebuah aturan tertulis yang biasanya susah diimplementasikan. dengan pola toleransi kepada pelanggarnya yang cukup mudah, sehingga hanya menjadi hiasan saja) harusnya kita siap melakukan tugas kita. Apa? Kalaupun hukumnya sudah ada, dan pornografi makin marak, ya kita harus membentengi diri kita. Jangan mengharapkan terlalu banyak pada pemerintah yang masih kacau balau ini. Jika kita mau membengkokkan tanaman bonsai, kita tidak bisa memaksakan membengkokkan rantingnya langsung. ini hanya akan membuat tanaman itu patah. Yang perlu kita lakukan adalah dengan menyediakan seutas kawat fleksibel dimana ranting bonsai nanti akan tumbuh mengikuti bentuk kawat yang kita tentukan tadi. Sama seperti pada pornografi. Untuk menghilangkannya, kita nggak bisa dengan menggantungkan diri hanya pada aturan tertulis. Kecenderungan manusia, (seperti juga bonsai) adalah melawan arus yang kuat menghantam. Peraturan ada untuk dilanggar. Semakin keras kita menekan, makin banyak anak muda yang penasaran dan terus mencoba mencari celah mengintip dunia pronografi (dan -naudzubillah- berpartisipasi didalamnya).

Yang perlu kita lakukan adalah dengan menanamkan pengertian pada anak kita, adik kita, teman kita, secara halus, untuk membencinya, dan memberi pengetian yang benar akan bahaya. Jika akidah tertanam erat, otomatis penyedia pornografi akan berkurang dan mati dengan sendirinya. Ia hanya akan jadi komoditas minoritas sebelum akhirnya tertolak dengan alamiah.

Beri satu saluran alternatif pengganti pornografi dan nggak bisa tidak, cuma agama yang memiliki kemampuan untuk menetralisir hal ini. memang nggak akan memakan waktu yang sebentar, tapi hasil akhirnya bisa kita harapkan dan jika terus diwariskan, bakal terus terjaga sepanjang waktu. mungkin ini terlalu muluk. Setidaknya ini impianku, sebuah keinginan yang (kaya’nya) susah terwujud disini. Tapi, setiap orang boleh optimis dan terus berharap. Bergantung pada-Nya.