Tadi aku baru aja berdebat sama temanku. Masalah klasik. Masalah yang udah lama gak ketemu jalan keluarnya bagi mayoritas Islam di Indonesia. Terlebih lagi orang awam macam kita ini.

Ini tentang perkataan (alm) Nurcholis Madjid. “Islam yes, Partai Islam No!”

Nah lo, katanya temenku mendukung pernyataan cak Nur ini, dan aku mendebatnya. Aku bilang, masa’ ga setuju ada partai Islam? kita harus punya partai islam. Dia menolak. Sebenarnya sih awalnya cuma iseng aja mendebat temenku, tapi lama-lama ujungnya jadi panas juga. Yang bikin aku agak “naik” adalah perkataan sohibku ini, dia bilang agama ya agamalah, politik ya politik, jangan dicampuradukkan.

Gimana aku gak panas. Aku bilang, wah gak bisa dong, biar bagaimanapun kan agama dan dunia harus disatukan dalam hidup kita. Jadi, kalo kamu mau korupsi, korupsi aja, soal sembahyang, itu urusan lain lagi.

Alasan dia lagi, kita semua kan punya pandangan yang berbeda, itu jawaban akhir dia. Dan aku ga punya kata-kata lain, kalo udah itu jawaban pamungkasnya.

Setelah mau tidur, kurenungkan lagi.

Aku pikir-pikir,¦ ternyata kebanyakan dari kita masih memikirkan dunia dan akhirat sebagai dua hal yang terpisah. Dan aku nggak mau munafik, kadang2 aku pun berpikir, bertingkah laku demikian.(yah, emang bukan perkataan cak Nur yang mau aku bahas, tapi masalah Dunia dan Akhirat dalam hidup kita).Aku lupa, kalo ini bukan hanya masalah politik aja, tapi semua urusan dunia kita harusnya kita kaitkan dengan akhirat. Kalo nggak, nggak mungkin bahkan hingga buang hajat aja Islam punya tuntunan adab cara melakukannya yang baik dan benar.

Kaya’nya analogi yang tepat (menurutku) adalah bahwa dunia dan akhirat itu seperti helix pada gen kita; tidak lengkap jika tanpa yang lainnya. Kedua untaian gen itu saling berputar memilin dan kombinasi dari keduanya itulah yang menjadi dasar dari kehidupan. Mereka menyatu satu senyawa. Satu utas adalah dunia, dimana kita hidup dan tinggal, berinteraksi didalamnya, sehingga harus kita jalani, di lain pihak ada utas lainnya yaitu akhirat, yang menjaga keseimbangan dan menjadikan kita lengkap sebagai manusia.
Allah udah menempatkan analogi itu tepat di setiap makhluk hidup, sebagai dasar dari kehidupan, tapi kadang-kadang ktia terlalu sombong untuk sesekali merenung dan mengambil hikmahnya..

Jadi ingat sebuah kata-kata yang pernah kudengar. Entah sumbernya dari Hadits, atau ucapan sahabat Nabi, atau ulama, tapi intinya “Orang kafir maju ketika mereka meninggalkan ktiab mereka, sedangkan orang Islam mundur karena meninggalkan kitab kita, Al-Quran” nah, mungkin aja, kita jadi bulan-bulanan negara lain dan harga diri umat Islam ini gampang diinjak-injak, karena kita udah jauh banget dari tuntunan Rasul yang mulia, kita mulai pisahkan diri kita dari agama kita, dalam setiap sendi hidup kita, kita hidup tanpa Izzah.

Orang-orang lain maju, karena meninggalkan agama mereka, dan membawa agama baru dengan nama kapitalisme, konsumerisme,dll. sedangkan kita, padahal kita punya Quran yang isinya adalah tuntunan hidup, kita buang dan jadi bebek yang mengiringi agama-agama sesat buatan manusia itu, dan mencampakkan kebenaran dalam Quran, yang baru kita buka sekali-kali di bulan Ramadhan ini. Naudzubillah!

Ya muqallibal qulubi tsabbit qalbi ‘ala dinika (wahai yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami pada Dien-Mu)
Soalnya aku udah terlalu cinta sama dunia, sampe-sampe sering melupakan yang satu lagi yang lebih penting. Akhirat. Aku gak mau seperti kata seorang ulama, kadang kiia melihat dunia ini seperti melihat kerikil yang ditaro tepat didepan mata kita. Walau kecil, tapi karena menutupi kornea kita, membuat ktia gak bisa melihat keluasan akhirat dibelakang sang “kerikil” dunia itu. Fokus kita pada hal-hal fana, yang kita jalani sehari-hari, padahal ada akhirat kekal setelahnya. Mengapa? mata kita dibutakan oleh realitas. Kita memisahkan dunia dengan akhirat. Hanya karena apa yang ktia perbuat di dunia, ktia rasakan langsung akibatnya, sedangkan kita sering lupa sama akhirat, karena kita (sampai saat ini) belum merasakan manfaat dari apa yang kita kerjakan untuk kebaikan di akhirat.
Ini pengingat buatku sendiri. Esok mungkin aku lupa. Tapi InsyaAllah dengan sering berwasiat pada diri sendiri, kebodohanku bisa ditekan seminim mungkin. Insya Allah, Amiiin.