11/9 2001 dan soal Jihad

Sampai dengan malam ini, tadinya aku mengidolakan para pelaku pengeboman 11/9 2001. Kupikir, mereka pelopor. Saat dunia ditekan oleh kapitalisme, dua pesawat bagai burung menghajar telak pusat simbol kesombongan biang kapitalis itu. Dalam bayanganku, “Inilah mereka, orang-orang terpilih yang merelakan hidup mereka untuk memberi pelajaran berharga pada Amerika, dan negara-negara penganut paham liberal. Ada kami (atas nama Islam) yang tidak tinggal diam”.

Lalu aku renungkan malam ini. Apa dampak pasca peristiwa itu bagi negara negara muslim. Rasanya para pelaku tidak hanya gagal menyampaikan pesan pada Amerika. Justru pesan yang sampai adalah tentang terror yang mungkin muncul jika barat terlalu lunak (pada Islam). Dan sejak itulah pula genderang perang mulai ditabuh. Irak, Pakistan, Afghanistan, Suriah, Palestina, hingga Iran.

Negara-negara dengan basis Islam tradisional yang kuat jadi sasaran serangan balik yang tak kurang emosional. “Pukul sebelum kita dipukul!!”

Sedihnya, dua menara yang hancur itu nggak sebanding dengan apa yang dibalas pada Negara-negara muslim. Kita balik tertekan dan harus tunduk buta pada kebijakan Amerika pasca 11/9. Lihat aja hasilnya pada Negara-negara yang membangkang.

Dilain pihak, pasca peristiwa itu, daya tawar kita sebagai suatu kesatuan agama termajinalkan. Jika apa yang kita perbuat tidak sesuai dengan apa yang ada dalam rencana kebijakan barat, indikasinya adalah kita ini dianggap menantang mereka.

Reputasi kita sebagai agama yang mengedepankan rahmat bagi alam ini hilang. Cap yang muncul adalah agama teroris, keras, yang doanya adalah bunuh, bunuh, bunuh, yang mengulurkan tangan pada orang yang datang tapi jika ia menolak, kita punya hak untuk membunuhnya.

Tidak adil rasanya, bahwa ini seperti ada yang memotong ekor seekor macan tidur, sehingga ia bangun dan menyerang membabi buta siapapun yang mendekat, walau bukan orang yang memotong ekornya sekalipun.

Rasanya, seperti ketika menyaksikan menara WTC itu runtuh, runtuh pula kepercayaan non-muslim (barat) pada kita. Kepercayaan yang seharusnya terus dijaga dan dipelihara, karena kita sadar, gimanapun juga, kita nggak hidup sendirian disini. Suka nggak suka, kita nggak punya hak untuk mengadili orang lain, karena mereka bukan dibawah kuasa kita. Yang harus dilakukan mestinya menunjukkan seperti apa Islam itu dari segi positif, yang tidak mengganggu, selama toleransi masih bisa dijalankan, agar timbul saling pengertian dan rasa cinta pada risalah kebenaran ini, tanpa unsur intimidasi. Soalnya, jikapun kebenaran dipaksakan, dizaman ini, maka kebenaran tetap bakal ditolak, karena disampaikan dengan tidak simpatik. Seperti Ziauddin Sardar bilang “Sulit untuk mati syahid di zaman ini, tapi lebih sulit lagi untuk hidup dan membuat manfaat lebih besar”.

Lain kali, jika aku atau anda punya niatan bunuh diri dengan mengatas namakan Islam, pikir-pikir dulu deh, jangan sampai komunitas muslim kecipratan ekses mudharat yang jauh lebih besar, dibanding apa yang kita lakukan, pasca bunuh diri itu. (kok rasanya jadi kaya’ nyuruh ya?)

Lebih baik kita gunakan akal kita untuk memikirkan apa yang bisa disumbangkan untuk membesarkan agama yang kita cintai, Insya Allah kita bukanlah pengecut dimata Tuhan. Kalaupun tidak mampu, diam sajalah daripada menunjukkan kelemahan kelemahan kita. Itupun (rasanya) masih lebih baik.

2 Comments

  1. aneuk muda blang bintang

    December 22, 2006 at 3:45 pm

    afwan zuh, ngoreksi punya ente sikit. “Yang harus dilakukan mestinya menunjukkan seperti apa Islam itu dari segi positif, yang tidak mengganggu, selama toleransi masih bisa dijalankan, agar timbul saling pengertian dan rasa cinta pada risalah kebenaran ini, tanpa unsur intimidasi…..”. terlepas dari ijtihad si “eksekutor” wtc, itu semua adalah “reaksi-reaksi”. bukan “aksi”. insya Allah masih cukup banyak “aksi-aksi” yang tidak kita ketahui. yang sengaja di sembunyiin, ga dipublish. karena mayoritas hak publis itu punya “mereka”. islam memang ga mengganngu. klo mengganggu, ga jadi donk islam itu rahmatan lil ‘alamin. tapi klo duluan di ganggu gimana?

    Qta ga lemah zuh!!!!

  2. yah, tapi begitulah stigma yang muncul dari buku-buku yang ditulis oleh kebanyakan orang barat yang selama ini kubaca.
    Kaya’nya aku lebih milih berjuang tanpa kekerasan deh. lihat gimana amerika bisa menguasai dunia saat ini? bukan dari perangnya (kan perangnya dikecam terus). tapi lewat informasi. bahkan kata2nya udah terbukti. “siapa yang menguasai informasi, menguasai dunia”.
    soalnya kalo kita menguasai informasi kan otomatis bisa merubah jalan pikiran banyak orang. dan tentu aja, menyampaikan pesan yang benar. that’s all.

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑