Mie Instan dan Tahun Baru

Ada yang melewatkan waktu pergantian tahun dengan ikut berdesak-desakan di jalan raya atau alun alun sekedar ikut membunyikan terompet saat tahun baru tiba. ada juga yang ikut kemeriahan meriuhkan suasana dengan menyalakan kembang api. Tapi di sini, di kosanku, tepatnya pada jam 00.00 WIB setelah ikut tertawa singkat bersama beberapa teman-temanku dengan alasan “Pergantian tahun harusnya dimulai dengan tawa” agar kesedihan di tahun lalu terlupakan sejenak, aku kembali lagi ke kamarku.
Kali ini hanya ditemani sebungkus mie instan yang diseduh.
Ada beberapa hikmah tahun ini yang ingin kuceritakan. sebaiknya jangan berisik dulu sebelum membacanya, siapa tahu ada yang bisa diambil disini. kalau enggak, anggaplah celoteh omong-kosong diujung tahun 2006.

1. Pernyataan “Pergantian tahun harusnya dimulai dengan tawa”

Hal yang absurd dan bagi sebagian orang gak relevan. tergantung sudut pandang masing-masing individu. toh ada yang bilang ini awal tahun, terjadi 12 bulan sekali. sekali-sekali ga papa dong dirayakan.
ada juga yang punya pendirian kalo sebenarnya akhir tahun atau awal tahun ini hanya merupakan siklus alam aja, sama alaminya seperti bumi yang berputar penuh, atau siklus bulan purnama, atau hari ulang tahun. Mau kita rayakan kaya’ apa pun mewahnya, tetep aja gak akan merubah apapun.
Jadi ingat cerita motivasi tentang alam, yang intinya kita kadang kadang terlalu memusingkan diri dengan waktu waktu dan waktu. padahal waktu terus berjalan dan nggak ambil perduli dengan kita.
Nah disinilah letak absurditasnya. kalo hanya berupa hal biasa aja, gak ada bedanya kita mulai tahun 2007 ini dengan tangis atau tawa. Toh tetap aja aku tertawa, karena ini yang paling bisa aku lakukan, dan emang lagi gak ada mood untuk nangis… we..

2. ritual mie instan di tahun baru

Ini bukan ritual dalam arti filsafat yang dalem dan nggak mengandung makna apapun. hanya saja perut emang lapar sejak tadi, dan yang tersisa di lemari hanya sebungkus mie tjap ka**, sedangkan warung makan mana ada yang buka lagi jam segini, ditengah larutnya massa dalam suasana euforia, jadilah ka** itu sebagai pelampiasan.
Setelah dimakan baru kepikiran. Ada yang dengan entengnya merayakan tahun baru jorjoran dengan biaya milyaran rupiah, demi merasakan sedetik pergantian tahun, dengan menyisakan ber ton-ton tumpukan sampah sesudahnya, sementara disudut lain ada orang-orang yang mengais sisa ton-ton sampah tadi cuma untuk bertahan hidup sambil mengutuk “peduli setan tahun baru… gua makan aja sama sulitnya hari ini atau kemaren”.
Nah, sepinya makan mie instan sendirian dikamar, menambah syahdu suasana malam tahun baru, setelah siangnya merayakan idul adha. ada romantisme disetiap slruput ka** itu, yang gurih,tapi juga terasa sedih karena gak ada siapa-siapa. hanya aku dan mie itu. wekekekek….
jadi terasa susahnya orang lapar yang gak punya apa-apa, sementara sekelilingnya pada berpesta, gituloh.

Udah ah becandanya, sekarang mau tidur. besok bangun pagi masih tanggal 1 kan? Kalo masih bisa bangun lo. Umur kita siapa yang tahu. siapa juga yang tahu kalo ternyata setelah merayakan tahun baru dengan gegap gempitanya, merencanakan planning paling muluk sedunia untuk tahun ini, dan menyiapkan pencanangan “TAHUN PERUBAHAN TERBESAR GUE”, gak tahunya besok pagi udah koit sebelum sempat ngapa-ngapain. capekdehgua!

3 Comments

  1. mie koq cap kapak??

    salah makan kali tuh 😛

  2. Nama mie nya pasti kare ;p
    Emg g boleh nyebut nama produk y di blog??? :0)

  3. biar gak jadi promosi gratis..
    sebab, di tahun baru, banyak produk lain kok yang bisa dipilih.. apa lagi yang baru itu… sa**mie dan lunamaya…
    kebayang. lebih enak luna maya dari pada mie nya.. weheheh… #saru!#

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑