What if I Know How I Die?

Seperti apa kehidupan kita seandainya kita mengetahui masa depan kita? Inilah yang tiba-tiba aku tanyakan karena baru aja aku bangun dari tidur dan mimpi, mimpi tentang hal itu, dan menurutku, jika kita bisa mengetahui masa depan – dalam hal ini berupa ramalan- tntang seperti apa akhir dari hidup kita masing-masing, tentu hal ini bakal jadi sebuah mimpi buruk…

Ya, baru aja aku bangun dan mimpi, dalam mimpi itu aku udah seperti tau akan bakal dengan cara apa aku akan mati. Kalo udah nonton final destination, tentu kalian paham maksudku dan nggak, aku udah lama nggak nonton itu film jika kalian bertanya, -ah, kamu kebanyakan nonton kali-

Dan bodohnya, aku adalah seorang skeptis yang percaya bahwa ketetapan-ketetapan itu bisa aku hindari sedini mungkin dengan menjauhi apa yang kuanggap menjadi penyebab kematianku. Dalam sepanjang mimpi itu ,aku berusaha menghindari semua hal yang mungkin bakal jadi penyebab berakhirnya hidupku

Pada akhirnya, sekeras apapun aku mencoba untuk menghindari, apa yang aku takutkan datang juga, persis seperti apa yang telah ditetapkan. Dan jadinya, sepanjang hidupku itu, hanya menjadi mimpi buruk yang walaupun udah aku hindari, tetap terjadi juga.

Ini emang sepertinya berhubungan dengan postinganku sebelumnya, tentang ramal meramal, tapi dengan konsekuensi yang berbeda. Jika ramalan itu benar-benar menjadi kenyataan, dan kita tahu itu benar, seburuk apapun hasil akhir dari hidup kita, harus kita terima dan yang membuat kita tersiksa, adalah kita bakal tahu dengan cara seperti apa perjalanan hidup kita akan berhenti (dengan cara paling baikkah, paling burukkah?)

So, dari awal Allah udah menetapkan bahwa kita nggak akan mengetahui rahasia yang satu ini, hatta nabi sekalipun. Supaya kita semua hidup dengan keadaan yang sama, nuansa optimis yang lahir karena kita nggak akan pernah tahu akan seperti apa masa depan, atau hari esok kita. Seburuk apapun kita hari ini, kita selalu punya harapan bahwa besok things gonna be allright, or better.

Coba sedari awal kita udah tahu, bahwa kita bakal mati dengan cara seperti “ini” misalnya, bakalan sepanjang hidup kita akan menjadi ketakutan sendiri, dan berupaya menjauhi hal-hal yang sedianya berpotensi mendekatkan kita pada apa telah diketahui akan terjadi, sehingga bisa-bisa kita hidup dengan semangat yang tipis, menduga-duga “inikah hari itu?”

Rahasia itu hanya milik Allah, kita yang nggak punya bekal apa-apa tentang seperi apa masa depan kita, hanya bisa terus berusaha menjadi lebih baik, sama seperti yang dikatakan:

‘Manusia yang beruntung adalah manusia yang hari ini lebih baik dari hari kemaren’
Dan saat tiba hari yang dijanjikan, kematian, setidaknya kita udah berusaha untuk menjalani kehidupan kita ini dengan baik, dan bilapun tidak mencapai hasilnya, kita kembali menghadapNya dengan tanpa penyesalan. Die in action.
“peu ka peugah zuh?”
😀

4 Comments

  1. ada situs keren nih..

    http://deathclock.com/

    ntah hapa2 orang kreatif nya…

  2. udah nyoba? pake metode apa? optimis? pesimis? sadistis?

  3. aku coba mode optimis B-)

    gmn hasilnya ra?

  4. pake normal, bakal mati pada: Wednesday, December 19, 2057
    pake pesimistis, bakal mati pada: Monday, November 2, 2037
    pake sadistic, bakal mati pada: Saturday, December 19, 2020
    pake optimis, bakal mati pada: Friday, January 11, 2069
    Oh well. pake yang manapun, aku gak punya kesempatan hidup 100 tahun yar…
    padahal BMIku menurut http://en.wikipedia.org/wiki/Body_mass_index
    emang underweight sih, tapi nggak jauh2 amat. butuh sedikit usaha (makan dan ndak stres kali ya?)

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑