Learning by Understanding

Halah, ngomong apa lagi si Rambideunt ni….

Ini loh, ini cuman catatan kecil supaya gak lupa gimana ternyata belajar yang paling efektif dan cocok sama seleraku. Baru sadar hari ini. HAH? BARU SADAR HARI INI? dari dulu, kemeneng ejeng lu?


Oke Oke, gini Zuhra. Cara belajar itu, bukannya duduk, datang, catat/tidur, pulang. Ntar catatannya dibuka/dipinjem kalo keadaan sudah terdesak di pojok ruangan, saat ujian tinggal beberapa hari di muka. Emang sih, selama ini, bisa aja berhasil. tapi, probabilitas kegagalannya ditambah tingkat ke-setres-an kalo ternyata apa yang kita pelajari belum sepenuhnya berhasil itu bakal lebih tinggi dibanding hasil yang ingin kita harapkan.

Trus, aku evaluasi lagi tadi, kebetulan sambil ikut seminar web service-nya Micros**t di elektro, aku berkhayal mikir gak jelas. Ternyata emang lebih mudah memahami teori yang diberikan oleh orang lain itu (ntah itu kuliah, tutorial, belajar pelajaran) kalo kita sebelumnya udah tau dasar-dasar dan setidaknya pernah mendengar apa yang akan kita pelajari itu.

Contoh sederhana, pas kuliah dulu ada mata kuliah yang namanya serem banget. “Basis Data”. Tololnya, sampe dua semester kemudian baru aku ngeh kalo ternyata apa yang kupelajari dari si Basis Data itu ternyata seputar masalah database.
Mak nyuuusss
….
Hampyun, cuman karena gak dibahasa Inggriskan, aku ketipu dan keder duluan sama yang namanya Basis Data, dan berakhirlah kuliah itu dengan nilai C yang cukup sukses.

Itulah bedanya orang pintar dan yang tidak. Orang pintar minum tolak angin. Orang pintar, sebelum mulai mempelajari sesuatu, dia bakal nyari referensinya dulu. Misal, mau belajar bab Fisika masalah Gaya. Dia pasti baca-baca dulu secara ringan tentang apa itu gaya, siapa yang punya teorinya, gaya apa yang lagi ngetrend saat ini, blablabla…
So, saat pak guru menjelaskan di papan tulis, dia tinggal memahami dan menyinkronkan apa yang pernah ia baca dengan apa yang pak guru itu terangkan. Paham?

Nah, la kalo orang bego macam aku itu lain lagi, pikirannya “Entar ajalah, nunggu pak Dosen yang nerangkan. paling ntar ngerti sendiri” Ternyata pemikiran kaya’ gitu nggak menghasilkan apa-apa selama ini. Yang ada hanyalah wajah yang mengangguk-angguk tanda ngantuk karena dari awal gak ngerti apa yang dosen terangkan. Belum lagi kalo bahasannya udah berat dan terlambat datang 5 menit aja. Dijamin udah ga nyambung 99% dengan apa yang dosen terangkan. Pas giliran dosen menyediakan sesi tanya jawab, orang pintar akan bertanya bagian yang belum dia pahami, sementara aku dan sebangsaku (biasanya ditandai dengan golongan yang duduk paling belakang, make sendal jepit pulak) cuma diem, karena gak tau apa yang mau ditanyakan. Bukan karena dah ngerti, tapi karena ga tau sama sekali.

Masih belum Dong juga dengan apa yang kupaparkan tadi? Perlu dikasih contoh lain yang lebih sederhana? Baik adik-adik TK pertiwi sekalian, gini loh, kakak mau cerita tentang apa itu gajah. Gajah adalah binatang berkaki empat, berbelalai panjang, berbadan besar dan bertelinga lebar. Begitu ceritanya.

Jika saja anak-anak TK pertiwi sekalian belum pernah melihat gajah, apa yang tergambar dalam pikiran kita tentulah sesosok makhluk monster alien bertubuh bongsor. Lain ceritanya jika setidaknya kita pernah melihat gambar gajah di majalah, atau di tivi. Kita bisa membayangkan seperti apa wujud hakiki gakah itu, tanpa imajinasi kita berlari dengan liarnya. Pasti kita akan bilang “Oooh, ngomongin gajah toh!”

Begitulah, mudah-mudahan cara belajar ini bisa berlaku untuk kita semua, jadinya besok pas ujian atau memang saat ilmu itu dibutuhkan, kita nggak meraba-raba, dan tidak menerapkan teknik andalan kita untuk semua mata kuliah, yaitu teknik mengarang bebas.

Wallahu a’lam. God Knows.

5 Comments

  1. he…he… setuju sekali…..
    salam kenal mas

  2. Thanks udah nge-link, saya link balik yah!

  3. sama2…

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑