Bye, Yogya!

Udah, udah selesai semua kewajibanku di Yogyakarta. Hari ini, aku udah nggak disana lagi dan kemungkinan nggak menginjakkan kaki lagi di Yogya untuk waktu yang lama, kalau nggak mau dibilang gak tahu kapan bakal kembali ke sana.
Nggak terasa udah 5 tahun umur yang kuhabiskan di tanah Ngayogyakarto ini. Tentu, dari 5 tahun di sana, nggak sedikit pengalaman, kenangan yang aku peroleh, baik manis maupun pahit. Oke, kita review dulu sedikit dari sekian banyak, sekedar mengenang apa aja yang berkesan dari tanah yang udah bertahun-tahun menggembleng aku hingga menjadi seperti sekarang.


Antara Nasi Kucing dan Santai Wae
Kalo soal makanan, tentu banyak cita rasa yang terasa aneh, terutama bagi manusia macam aku yang sedari kecil bercita rasa masakan Sumatra. Pertama tiba dan mencicipi gudeg, pasti bakal nggak suka, karena apa-apa yang disini kebanyakan berasa hambar menjurus manis. Untung aja setelah beberapa bulan beradaptasi dan mengenal daerah-daerah kantong kuliner yang bersahabat bagi lidah, kini persoalan masakan bukan menjadi kendala lagi. Malah kadang-kadang kaya’nya ada rasa seneng aja sesekali mencoba jajanan khas Yogya. Terutama nasi kucing.
Tunggu dulu. Nasi kucing?

Yup, nasi kucing dan angkringan adalah dua hal yang nggak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa keren seperti aku di Yogya. Nasi kucing atawa sego meong (sego=nasi, meong=kucing/felis) kebanyakan adalah alternatif makanan dikala keuangan bulanan udah mempet. Tentu saja seperti yang digambarkan oleh namanya, nasi kucing nggak menawarkan apa-apa bagi perut dan selera makan manusia pada umumnya. Dengan bermodalkan rp.500, kita sudah mendapatkan satu bungkus nasi kucing, yang jika ditilik isinya hanyalah beberapa suap nasi putih plus sambal, atau teri, atau tempe. Memang nggak akan mengenyangkan menyantap nasi kucing, tapi tentu banyak manfaatnya bagi mahasiswa fakir di akhir bulan, sekedar mengganjal perut dan melanjutkan kehidupan. Huehehe…

Terus terang, aku juga jarang makan nasi kucing, karena banyak alternatif lain yang murah meriah di Yogyakarta untuk urusan makan. Ambil contohnya burjo (singkatan dari buBUR kacang iJO, yang warungnya tersebar merata di penjuru kota Yogyakarta, buka 24 jam sehari dan biasanya dijaga oleh teman-teman dari daerah Jawa Barat) atau warung makan-warung makan kecil di sekitar kosan. Hal menarik dan yang jadi ciri khas di Yogya ini adalah warung makan kecil itu selain murah, biasanya sangat kekeluargaan. Maksud kekeluargaanku disini adalah bahwa walau kita baru makan sekali diwarung tersebut dan si empunya gak kenal sama kita, dia bakalan menerapkan filosofi Yogya untuk setiap pembelinya. Jika kita membayar dengan uang yang dia kebetulan lagi nggak punya kembaliannya, atau kelupaan bawa uang, alih-alih memaksa kita menukarkan uangnya dulu, atau mencari tukaran uang, dia akan berkata: “santai wae mas, sesuk wae mbayare!” (terjemah; santai aja mas, besok juga gapapa bayarnya). Biasanya, mereka percaya banget dan mengerti kesusahan pembelinya, dan itu menurutku adalah ciri khas alias filosofinya orang Yogya kebanyakan. Santai Wae.
Bagusnya, atau malah kadang-kadang, celakanya, fenomena santai wae ini diterapkan di banyak sektor. Kasus-kasus berikut menggambarkan penerapan santai wae pada beberapa kondisi.

Kasus 1:
Z: “Aduh mas, sori, ngerepotin mas terus nih”
M: “O… gapapa kok. Santai wae”.

Kasus 2:
Z: “Aduh sori mas kakinya keinjek”
M: “Oh, Ndak papa tho mas, kebetulan kaki saya juga sedang ndak dipake, monggo injek aja sepuasnya”.

Kasus 3:
M: “Halah mas ini kita udah mau terlambat”
Z: “Santai wae mas, udah kepalang telat, kita jalannya ngesot aja dulu sekalian”.
(NB: kasus 2 sedikit dilebih-lebihkan, dan kasus 3 adalah pengadopsian frase santai wae yang sangat salah oleh saudara Z)

Hasilnya adalah suasana kehidupan di kota Yogya pace nya itu nggak begitu terburu-buru seperti di kota-kota besar lain di Indonesia, yang menurutku asik sekali untuk suasana belajar. Orang-orang disini pada umumnya tenang penyabar dan nggak gampang marah, walau mungkin kalau dari segi negatifnya sifat tenang itu oleh orang luar diasosiasikan menjadi terkesan agak lambat dalam bergerak.
Teman-teman di sana, yang kebanyakan adalah sesama perantau adalah jadi pengganti saudara yang kapanpun kita butuh, tanpa pamrih selalu siap membantu, menjadikan hubungan pertemanan adalah sebagai wujud nyata dari simbiosis mutualisme sosial.
Ini juga adalah satu wajah lagi dari Yogya yang bikin ngangenin.

Walau mungkin aku udah nggak di Yogya lagi, tetap aja, sebagian hati ini masih tertambat di sana, bersama dengan hari-hari dalam kurun 5 tahun yang telah dijalani, entah sukses, entah tidak.
Terima kasih Yogya, teman-teman, bapak ibu kos, Universitas, orang-orang, warung-warung, tugu, stasiun, Malioboro, pantai, Kanjeng Sultan, segala jenis lelembut dan makhluk baik hidup maupun tak hidup yang bersatu padu membentuk Yogya dan memberi kesan indah bagiku. Adios!

15 Comments

  1. ‘Til we meet again, Ra.. πŸ˜€

  2. Desti M Nurmahysa

    October 8, 2007 at 12:13 pm

    hijrah ke mana skrg, Ra?

  3. iya.. iya.. gak usah kangen gitu ama dt ntar.. :mrgreen:
    *halah, perasaan dt aja nih.. he5x..*
    duh, pisah ama yogya yah bang?!!
    hhmm.. kasus yg sama pas dt dulu pindah dr bdg ke aceh.. dan dr aceh ke medan… there’s a lot of memories for me..
    hikZzz.. jd sedih nih.. kangen… πŸ˜₯
    *maap, itu bukan refer ke kangen band yah!! πŸ˜† *

  4. @mike
    Yoi mike, semoga bisa ketemu lagi.

    @desti
    udah terjawab, kan? πŸ˜‰

    @deeta
    Gede Rasa! huehehe…

  5. Hijrah salah satu solusi terbaik untuk mencapai masa depan…
    Kenangan tinggalah kenangan yang mungkin tak terlupakan…
    Met’lebaran… Mohon maaf klo ada salah2 kata… Met’makan ketupat…

    *heehehhe nyambung kaga yach?

  6. Yo bro…. Mau hijrah ke mana neh? Bisnis masih lanjut kan? πŸ˜€
    OK bro do your very best, take care & good luck!

    Beste Grüße,
    Dafferianto

  7. aduh, jadi terharu sy mbacanya..
    mudah-mudahan sy bisa meninggalkan jogja dengan langkah puas,,
    akn kugapai cita-cita…
    bravo!!

    (*apaan seh??)

  8. Lo kabur kemana zu???
    ❓ ❓ ❓ ❓ ❓

  9. @Evahady
    mohon maaf lahir ketupat. eh, lahir batin juga…

    @daffe
    bisnis? lancar bro! mau buka cabang jerman opo? boleh…

    @morishige
    ikutan, amiiiin *saya yang nulis aja jadi ikut terharu nih.huehehe!*

    @ari gondrong
    masih gondrong lu? pa kabar lumixnya? kalo bosan, boleh juga tuh di lempar kemari…

  10. ra, aku promosi ini dulu ya ..
    http://xplor3r.my.or.id/komunitas/

    kalo sempat klik itu, coba search kata ‘Yogya’
    trus ‘8 Habits of Highly Freak People’
    trus ‘Bungong Seulanga’

    dll .. referensi nya ada di blog ini πŸ˜€

  11. Oi zu baru buka2 blogmu

    jangan lupa kirim donk kalo panen

    btw cie…ma sapa disana??

    cuit cuit…

  12. sante wae, mas.. πŸ˜€

    suatu saat, njenengan pasti akan rindu dengan suasana Jogja yang kek gini..

    πŸ˜€

  13. @SangPetualang
    Oke bos… Confirmed!

    @Haris
    Cit cit cuwit wit wit wit cuwit burung berrrnyanyii

    @Zam
    Nggak nunggu suatu saat, sekarang aja udah mulai rindu nih bos!

  14. smagat bro….!!!

  15. I luv nasi kucing so!!!! eeh, kalo punya resep sambel terinya bagi2, yah. biar kita selalu inget jogja. amien

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑