Copernicus Salah…

Anjrit! Dunia sudah datar…” komentar salah satu temanku.

Lho, mungkinkah citra satelit palapa menunjukkan kesalahan? apakah teori yang diungkapkan Copernicus dan dibuktikan Oleh Colombus berabad lalu justru dimentahkan oleh manusia di abad modern ini?

Tenang…
Sebelum anda memutuskan bahwa tulisan saya ini bullshit belaka demi mendongkrak rating blog ini dan buru-buru menulis komen penuh cacian dibawahnya, atau malah buru-buru sibuk mencari tombol dengan tanda silang di pojok kanan atas dan mengalihkan halaman ini kesitus lain yang lebih bermanfaat (playboyo.com mungkin :mrgreen: ), baiknya saya menyenangkan hati anda-anda semua dulu dengan memberikan pernyataan, bahwa Dunia itu datar emang fenomena yang sedang terjadi saat ini, bukan sebagai salah satu tanda esok hari akan kiamat, tapi ini jargon yang dikumandangkan secara global oleh seorang penulis kenamaan pemenang tiga Pulitzer, Thomas L. Friedman.

Apa sih alasan bagi seorang Friedman untuk tega-teganya membuat pernyataan yang sedemikian meresahkan itu?
Tentu bukan sebuah hal yang mengada-ngada bagi teori yang menyatakan bahwa dunia sekarang ini menjadi semakin datar. Fenomena itu dapat dilihat dari semakin cepatnya kita saling terkoneksi antar satu orang dan orang lainnya.
Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? tentu anda tahu jawabannya saat ini juga. Jaringan telepon, Media Massa dan internet menjadi basis pertukaran informasi yang masif.

Dulu, berita kematian Pak Haji Durrohman yang meninggal di Jakarta, akan sampai ke kampung halaman beliau sebulan kemudian, saat Pak Haji bahkan udah mulai dilupakan oleh tetangganya di Jakarta sana. Akan tetapi kini, siapapun,bahkan penduduk sebuah desa di pelosok ujung sumatra, katakanlah desa Cot Meuraba-raba yang bahkan belum terpetakan dalam GoogleEarth, bahkan tau kalau sekarang seorang Agnes Monika sedang digosipkan dekat dengan siapa, anak siapa keturunan siapa, putus dengan siapa, lebih dibanding tetangganya Agnes sendiri, berkat bantuan tayangan infotainment gosip di televisi. :mrgreen:

Anda benar, Friedman memang tidak membahas masalah pak haji Durrohman, apalagi Agnes dalam tulisannya, tapi apa yang saya ilustrasikan di atas adalah sedikit dari bukti kebenaran teori World is flat.

Inti dari penganut mazhab ini adalah bahwa sebenarnya, IT telah mengerjakan perannya, menjadikan dunia ini menjadi suatu lapangan datar, dimana setiap orang bisa ikut bermain di dalamnya. Dengan satu syarat utama. Ia punya akses IT.

Tahukah anda, bahwa sebagian besar pengerjaan perbaikan komputer Y2K di Amerika Serikat ternyata dikerjakan oleh orang-orang India yang notabene berada 1/2 perjalanan dunia jauhnya?

Pendatar lain, kenyataan masih banyak orang meksiko yang belum mengetahui bahwa patung kebanggaan mereka, Bunda Maria dari Guadalupe, ternyata diimpor dari Cina. Jika saja mereka tahu, mungkin kekecewaan yang didapatkan sama persis seperti saat saya membeli batik murah di suatu tempat di pasar BeringHarjo, dan menemukan label yang tertera disitu: “Made in China“. Maut!

Tentu saja globalisasi, pasar bebas, atau apapun julukan yang diberikan, ditujukan bagi orang-orang yang siap. Sayangnya, kita masih jauh tertinggal dibandingkan China dan India. Usaha mereka nggak main-main. Mereka bangsa yang begitu lapar akan informasi, mengolahnya dan kemudian menjualnya kembali kepada orang lain dengan harga luar biasa murah sehingga bisa bersaing dengan negara-negara kapitalis yang sudah lebih dulu menguasai pasar. Mengapa mereka bisa? karena sumber daya manusia mereka yang melimpah ruah disertai dengan kesadaran tinggi individunya, mulai dari yang duduk di pemerintahan hingga pekerja buruhnya. Yang duduk di pemerintahan membuka keran akses informasi menjadi hal yang mudah dan murah didapat, sedangkan yang buruh pekerjanya mempergunakan hak akses itu dengan semaksimal mungkin. Makanya jangan heran produk yang mereka hasilkan juga berkualitas dan jauh lebih murah. Bandingkan dengan negara tetangga India, walau sama-sama berinisial ‘IND’ dan berakhiran ‘A’, tetapi negara ini punya kombinasi bagus anti sukses dalam persaingan global. Kompilasi kemalasan mengakses informasi, Informasi yang sulit didapat dan mewah serta birokrasi campuran permainan ping-pong plus puzzle dan labirin yang asli busuk sekali.

Duh, panjang juga bahasannya. jadi gemas rasanya ingin menulis beberapa ribu baris lagi. tapi biar nggak bosan, ntar aja kita bahas lagi yah… Ini juga baru masuk ke bab 10 nya buku si Friedman.

Yah, dunia memang semakin datar, tapi bagi orang-orang yang siap. Dimana sementara orang lain bermain golf di padang datar yang luas itu, kita bangsa Indonesia masih bekerja sebagai pemungut bola, alih-alih Caddie mereka…

3 Comments

  1. P’Zuh, dapet PR tuh di blogq…

  2. ini nih hoax bukan ya?

  3. indahpurnamasari

    April 23, 2008 at 6:35 pm

    msih..ada yg krang ni..??ditmbh lg isi y..

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑