Cita Cita ku

Dulu, saat seorang anak kecil (termasuk saya) ditanyai oleh orang lain mengenai perencanaan masa depannya, biasanya secara mantap anak itu akan langsung merujuk pada apa yang sedang digandrunginya. Jika ia baru selesai menonton film perang dan menyaksikan jagoannya, seorang polisi dengan seragam lengkapnya menendang pantat pejahat dengan gaya ala Steven Seagal, spontan nak itu mengatakan ingin jadi Polisi. Lain halnya jika baru selesai melihat parade pesawat terbang di TV, maka ia berubah ingin jadi pilot. Kalaupun perempuan, kebanyakan biasanya menyaksikan identifikasi dirinya sebagi ibu dokter atau perawat, yang terlihat dewasa, cantik dan keibuan dalam balutan seragam putihnya.

Oke, itu untuk anak kecil dengan usia paling jauh baru saja menyentuh dua digit. Cobalah utarakan pertanyaan yang sama, kali ini pada kelompok usia sedikit diatasnya, yang sudah sedikit menyadari realitas kehidupan. Kebanyakan mereka akan menutupi kebingungan mereka akan cita-cita mereka sendiri dengan jawaban yang mengambang. Pasti kita semua pernah mendengar seseorang mengucapkan kata-kata keramat ini: “Menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa (dan agama, sebagian menambahkan)”

Kedengarannya manis, memang. Tapi ada analisa yang bisa uraikan dari jawaban itu. ada rasa ketidak percayaan diri. maksudnya tentu saja, jawaban itu adalah jawaban yang tidak menghasilkan apa-apa. Jawaban itu mencerminkan bahwa cita-cita yang mereka inginkan itu hanya sebatas sebagai orang yang berguna. Halas. habis. selesai sampai disitu. nggak ada perwujudan konkretnya, mengenai seperti apa definisi dari orang “yang berguna bagi nusa dan bangsa”. Mungkin mereka sendiri masih bingung. karena kondisi sekarang ini menjadi apapun itu, terlihat belum tentu menjadi oran yang berguna bagi nusa dan bangsa. Menjadi polisi misalnya, anak anak itu sudah mencapai tingkat kesadaran dimana menjadi polisi pun belum tentu menjadi orang yang berguna. ada juga polisi yang sering digerutui oleh ayah atau ibu mereka, karena minta komisi saat ayah mereka ditilang hanya karena alasan yang dirasa dibuat-buat. Itu tentu merusak imajinasi mereka sendiri mengenai bentuk polisi sempurna yang menjadi andalan bangsa dan (tadinya) menjadi cita-cita mereka. bahkan tokoh agama pun tidak lebih suci dari yang terlihat.

Jangan heran jika sekarang, dari kelompok usia manapun, anda akan menjadi sangat jarang mendengar cita-cita “agung” itu muncul dari mulut anak-anak lagi. keragu-raguan tadi telah sirna. relung-relung ketidakpercayaan pada realitas dan culture shock setelah mereka mengenal lebih jauh kehidupan itu seperti apa akan diisi oleh jawaban realitas maya yang makin marak ditawarkan oleh budaya kapitalisme-pop-urban sekarang ini. Alih-alih anda mendengar jawaban ingin menjadi guru, anak-anak sekarang akan lebih mantap dengan jawaban “menjadi idol seperti anu”

budaya semu dimana citra seseorang serba sempurna bisa dikondisikan melalui sebuah media, telah mendorong anak-anak memilih cita-cita mereka sendiri. Budaya idola yang digila-gilai dan dipilin, katakanlah, melalui poling sms yang paling banyak masuk, disertai narasi panjang lebar tentang kehidupan yang mencapai puncaknya setelah ia meraih titel itu. ganteng atau cantik, baik, pintar menyanyi, dan yang membuatnya lengkap adalah saat ia menjadi idola yang dicintai ribuan penggemarnya.

Budaya pop ini, dimana seseorang yang jika ia perempuan diukur berdasarkan kualitas dadanya, betisnya, parasnya yang diumbar-umbar ke depan pemirsa dimana-mana, menjadi suatu realitas yang diamini dan diidamkan oleh ank-anak sekarang…
padahal, kisah sukses itu hanya dimiliki oleh seorang saja, setelah ia disaring dari terlalu banyak orang yang tersisih dan tidak menjadi apa-apa. Dan tentu saja, kehidupan bahagia yang didengung-dengungkan itu hanya satu sisi yang terlalu over expose, tanpa disadari, masih banyak sudut lain yang sengaja dikaburkan, demi kesuksesan pembangunan karakter itu. “masa’ ada sih hidup yang semata-mata bahagia hanya dengan melulu jalan-jalan di mall, sibuk dengan pakaian bagus dan seterusnya?” seperti itu yang dikeluhkan Bre Redana, seorang pengamat budaya.

Sebenarnya, kita sekarang lebih butuh seribu “orang berguna bagi nusa bangsa dan agama” dalam kenyataan konkritnya, dibandingkan seorang ikon budaya pop, tapi yang dibutuhkan lagi adalah bagaimana mengembalikan pandangan anak-anak kita, bahwa masih banyak dalam kehidupan nyata, orang yang baik dan berguna, yang bisa disentuh dan diteladani oleh mereka, dari profesi apapun. Bukan hanya satu orang di layar televisi itu…

3 Comments

  1. wuiihh.. bangkit dr kubur yah bang??! :mrgreen:

    hhmm..
    cita2-budaya pop yah??!
    dt sih gak bercita2 kyk gitu..
    cita2 dt>> jd akuntan yg berguna bagi bangsa dan negara.. (mgkn prshn t4 dt bkrja jg kalee yah, he5x..) 😎
    btw, tp kalo suka nton indo idol gpp kan??! 🙄 :mrgreen:

  2. cita-citaku yang penting bisa sekolah tinggi2 trus nyari duit banyak buad ngebeliin apa yg ortu gue impiin .. karna ng tw lagi gmana gue bisa ngebales amal ortu gue..
    😀

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑