Pangkas Cincang satu!

Ini cerita lama sih… saat pertama kali kembali ke tanah kelahiran sendiri. Klise emang, tapi kalo diinget-inget, jadi geli sendiri juga… Sekalian refreshing. Perasaan lama juga nggak nulis sesuatu yang fun.
Teman, aku udah lima tahun nggak merasakan cukur rambut versi Aceh. Tentu, hal ini disebabkan karena selama 5 tahun pula aku udah nggak menjejakkan kaki di tanah kelahiran tercinta ini.

Sebenarnya, rambutku, seperti yang udah pernah aku sebutkan, adalah sebuah contoh sempurna mengenai kesalahan teori gravitasi. Karena bagi rambutku, terutama dalam keadaan pendek, arah penyebarannya ini tidak merata, alias sebarannya ke segala arah. Tak heran sebutan landak, duren berjalan, kaktus, selalu dengan telak kadung melekat di benak teman-teman yang menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri fenomena aneh rambut runcing basah berjalan kesana-kemari dikala hujan.

Oke, Sebenarnya, masalah pangkas memangkas rambut selalu menjadi persoalan pelik tersendiri bagiku. menunda mencukur tentu lebih menghemat uang saku bulanan (yang ternyata malah lebih boros, karena uangnya terpakai untuk membeli shampo yang lebih cepat habis). Tetapi, pada akhirnya, karena ujung rambut ini sudah mulai menusuk-nusuk mata dan sering kali menyebabkan iritasi, dengan pasrah terpaksa rambut ala sunsilk-ku yang indah ini harus kurelakan berakhir masa jayanya.

Baik, kembali ke urusan pangkas di aceh. Sedikit memalukan, karena saking lamanya aku berada di luar aceh, aku nggak tau lagi tempat yang cocok untuk menjajal keahlian tukang pangkas di sana. Tukang pangkas di aceh terakhir yang kubiarkan menjamah rambutku adalah seorang kakek yang beroperasi di sekitar rumahku. Tentu saja sekarang beliau sudah nggak kelihatan lagi.

Dengan memberanikan diri, akhirnya aku putuskan untuk masuk ke salah satu barber shop alias tempat pangkas yang direkomendasikan sepupu dekatku, dengan harapan, hasilnya cukup memadai. Dan tentu saja, aku harus siap dengan kemungkinan terburuk. Oleh karena itulah, aku memilih hari yang tepat agar sekiranya hasilnya memalukan, di hari-hari selanjutnya aku gak punya agenda bertatap muka dengan orang banyak. Setidaknya sampai beberapa mili rambutku ini tumbuh.

“Rumah Pangkas Geutanyoe”. itu dia judul tukang pangkas yang aku singgahi. Hari udah menunjukkan pukul 19.30 setibanya aku disana. Bersyukur nggak ada orang lain, sehingga aku bisa langsung dilayani tanpa harus menunggu lama.
Sesudah berbasa basi sedikit, sampailah pada pertanyaan itu. “Mau dipangkas model apa bang?” tanyanya. Dengan sedikit gugup aku jawab “Terserah aja bang. Yang penting pendek dan bagus…”. Jawabanku langsung disambut dengan tatapan sedikit heran dari bang tukang pangkas, namun sebagai pencukur profesional, kurasa ia berusaha memenuhi keinginan kustomernya.

Setelah beberapa menit menimbang dan memutuskan dengan seksama, akhirnya dia memecah kebuntuan ruang itu dengan berkata, “Oke, model cincang aja ya!”
Sumpah, begitu mendengar kata cincang, hatiku langsung kebat-kebit membayangkan jenis makhluk apa yang dimaksud si abang. mataku secara refleks langsung nanar menyapu ruangan, meyakinkan nggak ada pisau daging besar tergantung disana, senjata yang boleh jadi digunakan untuk model “Cincang” apalah itu, sambil berkali-kali melirik wajah abang itu dari cermin yang terpasang didepan, sekedar meyakinkan si tukang pangkas ini gak punya tampang psikopat yang bakal membabat habis rambut dan kulit kepalaku dengan metode ‘Cincang’-nya seperti indian-indian ganas dalam filem koboi lawas yang pernah kutonton, atau si Sweeney Todd-nya Johnny Depp, sang Demon barber dari jalan apa itu namanya…

Akhirnya, dengan sedikit campuran antara pasrah dan rasa ingin tahu, akhirnya aku mengiyakan tawaran beliau, sambil berdoa dalam hati, Ya Tuhan, Lindungilah HambaMu ini… Kupikir, ini kesempatan baik untuk mengetahui perubahan tren yang terjadi 5 tahun sesudah aku ngga disini.
Lalu mulailah pekerjaan besar itu. Setelah beberapa menit, ternyata gak seburuk yang kubayangkan. Tak ada gunting kebun, alat pengebor kepala, Lagu-lagu operanya si SweeneyTodd yang kusebut tadi (yang ada malah cukurannya diiringi soundtrack lagu India) atau berbagai hal horor yang tadinya masih terpikir di dalam benakku, hilang bersamaan dengan makin menipisnya rambut yang tersisa di kepala ini. Malahan, beberapa saat kemudian, kami saling mengobrol banyak hal, dalam suasana ceria.

Setelah hampir selesai, tanpa membiarkan aku untuk mengamati hasil karyanya di cermin, langsung saja si abang ini merebahkan sandaran kursinya dan membiarkan aku dalam keadaan setengah terlentang, sambil menawariku jasa untuk mencukur kumis dan jenggotku, yang serta merta kutolak karena memang nggak ada yang tumbuh di bawah hidung dan daguku, yang baru saja aku bersihkan. Dan ternyata, tawarannya nggak berakhir sampai disitu. Ia menawariku untuk dipijat. Tentu saja kali ini aku tidak menampiknya. Sepanjang hayatku, aku belum pernah di pijat setelah dicukur, karena rata-rata tukang cukur yang aku datangi menawarkan konsep One Stop Barbering, alias datang, cukur, pulang. (eh, bayar dulu ding, baru boleh pulang).

Olala, saat dipijat itulah ternyata siksaan itu dimulai… Jika saja definisi pijat yang dimaksud hanya mengurut-ngurut sekitar bahu dan leher, mungkin aku masih dapat menahan siksaannya. Tapi ternyata pijat yang dimaksud adalah memutar-mutar leheku hingga berbunyi gemeretuk yang cukup menyeramkan hingga aku sempat berpikir kepalaku sudah copot entah kemana, hingga membalur minyak kayu putih di seluruh wajahku sambil mengaduk-aduk pipi, telinga, dagu. rasanya kurang lebih mirip dengan apa yang dirasakan seandainya aku menjadi kue adonan yang dipilin dan diaduk-aduk di tangan seorang koki… 😥

Ah ya, ngomong-ngomong soal hasilnya, selama beberapa minggu setelah di pangkas, Bad Hair Day everyday…

Ilahi, Ampuni dosa hambaMu ini… (dan sedikit berjanji dalam hati, mendingan menghabiskan uang ekstra untuk pangkas di Johnny Andrean -emang ada di Aceh?- daripada harus menanggung krisis pede akibat gaya rambut kacau begini)…

15 Comments

  1. hwkekekekeke…
    nongol2 bikin crta lucu bang.. :mrgreen:
    kalo mo ke jhonny andrean, dtg aja ke medan.. *sok mode on*
    drpda bad hair day & ‘tersiksa’ kyk adonan kue gitu.. 😆

  2. Aku pernah dipangkas ampe rambut aku menjambul kaya ayam. Tukang pangkas di Aceh rata-rata mengikut kepuasan dia bukan kustomer. Akhirnya aku ke salon idar di Simpang Tiga dekat Terminal Setui. Lumayanlah rambut lebih bagus tanpa menjadi The Bodyguard From Beijing.

  3. hahaha…
    kayak gimana tuh bentuk “cincang”nya zu ???
    btw link ku dirubah zu.. ke web address yang sekarang :p

  4. wakakakakaka…

    daripada dipasrahin, mending 321 aja zu..
    hasilnya paling:
    -landak
    -duren berjalan
    -kaktus

    😀

  5. Nice…
    Makasi sarannya bos.
    Aku akhirnya cukur pas cuti ke Yogya kemaren. Gak tanggung2… Rudy Hadisuwarno bo!!! 😈

  6. Ha ha ha ha
    gak bisa dibayangkan
    :mrgreen: :mrgreen:

  7. yah coba ada photonya, kan bisa ngelihat langsung lucunya rambutmu, gak cuma ngebayangin. 😆 😆

  8. coba klo ada fotonya, kan bisa ngeliat betapa lucunya hasil potong rambutmu

  9. coba ada photonya….kan bisatambah ngakak 😆

  10. wah coba ada photonya….. kan bisa lebih lebar ketawaku, gak cuman membayangkan 😆

  11. i can’t believe you man…
    you cut your hair??
    di banda lagi…

    akh…. have you lost your mind??
    oh, come on..

    i am terribly sorry for you…
    :mrgreen: :mrgreen:

  12. Hahahaha…ati2 kepala kau kena cincang na…
    Eh sodara kembarmu sudah melepas masa lajangnya tu
    Piye dengan dirimu?
    eh zuh add blog ku fadilaholic.wordpress.com

  13. Om..kepalanya masi ada kan?
    wakakakaka….
    Promosi blog om fadilaholic.wordpress.com

  14. Ya ksyn amt tu.. klo d medan barber shop byk yg bagus2 tu, kalo aq sih lbh suka ke barber shop krna lebih untuk cowok kyk de-barber di gatsu dkt spbu, evo barber shop jg bgus, ato chukoer barber shop jl menteng raya samping radja futsal, emang sih agak jauh dr t4 kos q tp playananya muantep bner, di jamin puas dah. hrgana jg pas ma kantong mhsswa, mklm anak kos hehe.. tapi kalo mw lebih berkelas sih mending ke jhony andrean tp siap2 dah ngerogoh kntong lbh dalem tu..

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑