Jam sudah menunjukkan pukul 19.00.

Lima menit lagi bus linie 4 jurusan Wehrda-Richtsberg akan mampir di halte depan asrama. Bergegas aku sambar jaket dan memakai sepatu anti hujan, tak lupa mengunci pintu, mematikan air, menyuci baju, menyetrika pakaian, lho? tidak, itu fiktif, kita rewind sedikit: jaket, sepatu dan payung. Cuaca hari ini tidak ramah. Marburg dan sekitarnya dilanda hujan, persis seperti kata ramalan cuaca tadi pagi yang selalu tepat, sayangnya tidak seperti halnya ramalan cuaca di Indonesia yang hasil akhirnya selalu dipengaruhi pawang hujan. 🙂

Di halte sudah menunggu manusia-manusia sejenis, yang berbicara tidak dengan bahasa Jerman, Rusia atau Spanyol. Semua berbahasa Indonesia (dan Aceh) yang menandakan, itu adalah teman-teman seperjuangan yang berjuang dengan seikhlas hati dan sekuat tenaga walau melawan cuaca yang dingin, mendapatkan buka puasa gratis terakhir di Mesjid Omar ibn al Khattab, Marburg.

Total waktu tempuh hingga tiba di sana sekitar 30 menit dan tanpa basa basi, kami segera menuju ruangan mesjid untuk berkumpul dengan sahabat seagama dari berbagai negara untuk melaksanakan ifthar bersama. Alhamdulillah tepat jam 20.00, Azan segera dikumandangkan dan masing-masing segera berbuka dengan sebutir kurma, dilanjutkan shalat berjamaah sebelum menyantap hidangan utama, yang hari ini agak sederhana, “hanya” senampan nasi Briyani dengan tambahan ayam bakar dan kuah daging, untuk masing-masing 6 orang perkelompok.

Rasanya sedih juga mengingat bahwa bulan Ramadhan sudah berakhir. Walau kebahagiaan 1 Syawal terasa, namun tersimpan kesedihan akan kehilangan momen Ramadhan, Kesampingkan kecurigaan kalian bahwa ini ada hubungannya dengan buka puasa gratis, tentu saja tidak (well, sedikit benar sih, sedikit saja….), karena tentu saja terutama karena Ramadhan adalah waktu kita bebas berekspresi dengan Allah, waktu malam berlomba-lomba memperbanyak ibadah dan waktu siang menahan diri dari es krim yang lezat serta penjualnya yang cantik (salahkan oknum berinisial FM) dan hal-hal lain yang mempengaruhi nilai puasa… Tentu, aku kali ini tidak akan berbicara mengenai hikmah puasa sesudah bulan suci ini dan sebagainya, aku tinggalkan itu untuk masing-masing individu, beserta apapun kesimpulan kita mengenai ibadah di bulan yang diberkahi ini.

Garis bawahnya ada pada kalimat berikut: Ramadhan kali ini berbeda dari Ramadhan sepanjang yang pernah aku alami sebelumnya.

Sebelumnya, sungguh mudah mendapatkan suasana bulan puasa. Dimana-mana akan terdengar suara azan dikumandangkan, di setiap corong mesjid yang bertebaran selalu bersahutan suara merdu tadarus yang selalu mengingatkan aku untuk ikut serta mengaji, di setiap rumah pembicaraan TV yang penuh gosip sementara tergantikan oleh ceramah agama dan semua orang sadar diri untuk menghormati bulan suci ini.

Nun jauh disini, tepatnya di sekitar koordinat 50,50 N 08,44 E belahan bumi bagian lain, semuanya serba terbalik 180 derajat. Struggling dengan lamanya waktu puasa ditambah singkatnya malam serta kondisi lingkungan yang tentu nggak kondusif dengan niat kita untuk menyempurnakan ibadah puasa sudah merupakan suatu pengalaman baru yang disatu sisi penuh tantangan, disatu sisi juga kadang membuat sedih, terutama jika mengingat Ramadhan-ramadhan sebelumnya. Terlebih di bagian-bagian tertentu, seperti contohnya malam ini, malam 1 Syawal.

Tidak ada takbir terdengar, tidak ada petasan di udara, tidak ada keriuhan pawai dengan beduk atau arakan keliling kota, menyambut hari kemenangan. Malam ini adalah malam kamis biasa bagi sebagian besar penduduk kota Marburg, dan itu benar, sehingga membuat aku memutuskan untuk sedikit merayakan malam ini, dan syukurlah, beberapa teman juga mempunyai niat yang sama sehingga kami pun sepulang dari mesjid, membuat perayaan malam idul fitri sebisa kami lakukan.

Itulah sebabnya, malam ini kami putuskan untuk pergi ke Oberstadt, pusat kota Marburg yang sudah mulai sepi dari aktivitas, dan menuju sebuah kafe untuk menyeruput minuman hangat, dan saling bertukar cerita. Beberapa saat kemudian, teman-teman yang lain ikut bergabung dan suasana malam lebaran yang dingin di awal musim gugur menjadi lebih hangat berkat kebersamaan para sahabat, segelas Heisse Schokolade mit Sahne dan obrolan yang panjang, menutup malam…. (walaupun tidak ada segelas susu gratis yang bisa jadi menyempurnakan malam penuh hujan ini, karena masing-masing membayar sendiri minumannya…)

Bagaimanapun, besok adalah hari idul Fitri pertama tanpa sungkem pada orangtua dan ketupat. Perjuangan memang, dan dalam setiap perjuangan, selalu ada pengorbanan. Tetapi, selalu saja ada cara untuk menekan perasaan rindu pada rutinitas lebaran di kampung halaman, karena kita adalah manusia yang diciptakan dengan kreativitas, yang bisa mensubtitusikan hal lama dengan hal yang baru seraya menghibur diri, meyakinkan bahwa dalam keadaan terbatas bagaimanapun, harapan dan keceriaan Idul Fitri tetap bisa dinikmati dengan sepenuh hati.

Minal aidin wal faidzin…