Oh, Ternyata Begini toh Köln Carnival 2011

Kelasi merangkap penabuh drum

Baru saja pulang dari melihat pertama kali karnaval di Jerman. Festival ini bertempat di Köln dan merupakan salah satu festival jalanan terbesar di Eropa. Sebenarnya belum ada gambaran seperti apa festival itu sebelumnya, cuma dengar-dengar aja dari orang-orang yang ramai membicarakannya beberapa hari sebelum karnaval dimulai.

Berangkat dari Bonn sebenarnya sudah cukup terlambat. maklumlah penyakit hari libur, pasti setelah shalat subuh maunya lanjut tidur. Pun akhirnya aku niatkan pergi juga meski pikirku bakal telat, dan akhirnya tepat jam 13 siang, aku berangkat menuju stasiun untuk mencapai Köln.

Ternyata, di dalam bus yang menuju stasiun saja, bus sudah dipenuhi orang-orang yang berpakaian sedemikian rupa. Badut Jester dan seorang polisi gadungan tampak becakap ria ditambah beberapa orang dengan kostum masing-masing pilihannya. Sepanjang jalan, tampak semua orang sibuk bertebaran di jalan dengan busana yang mencolok hingga akhirnya aku perhatikan, tampaknya orang-orang yang “salah kostum” alias hanya berpakaian seperti layaknya orang biasa bisa dihitung dengan jari (tebak, salah satunya itu aku). Waw.

Setibanya di stasiun kereta api, tepat waktu kedatangan kereta RB yang bertugas mengantar penumpang dari stasiun Bonn ke stasiun Köln. Dan ya ampun, baru kali ini aku merasakan naik kereta api di Jerman setara dengan kualitas naik busway di Jakarta saat jam pulang kerja. Begitu padat sehingga bahkan hampir tidak ada ruang untuk menggerakkan jempol kakiku. Dan seperti biasa suasana bertambah parah karena hampir setiap orang minum minuman beralkohol yang membuatku jadi mati kutu di tengah himpitan manusia yang semuanya memiliki tujuan yang sama. Köln.

Untung saja jarak tempuh Bonn-Köln hanya memakan waktu kurang dari 3o menit, dan untung juga, sebagian orang memilih untuk turun tidak di stasiun utama Köln, namun di stasiun Köln barat dan selatan untuk kemudian berparade menuju ke pusat kota yang memang terletak di sekitar Stasiun utama Köln.

Setibanya di Köln, aku makin dibuat terpana akan suasana kota Köln yang tumpah ruah dengan lautan manusia dengan kostum-kostum unik mereka. Köln dan sekitarnya berubah total menjadi chaos. Aku lihat beling-beling sisa minuman dan sisa kertas pembungkus makanan terserak di segala penjuru. Ah, ternyata dimana-mana, festival pasti meninggalkan masalah yang sama, tidak di Indonesia, tidak di Eropa.

Bergegas aku melangkahkan kaki sambil menyiapkan kamera untuk menangkap suasana festival luar biasa itu. Banyaknya manusia membuat aku sedikit kewalahan untuk mengambil momen-momen terbaik, tapi aku merasa senang karena bisa mengetahui budaya karnaval yang ada di Eropa, setidaknya di Jerman. Semua orang menari saat kelompok yang membawa peralatan musik yang lengkap memainkan lagu-lagu yang hits di Jerman. Terompet drum dan trombone sahut-sahutan mengiringi orang-orang yang bebas berekspresi dan menari sambil mengangkat botol minuman mereka. Tentu bagiku, ini adalah pemandangan langka, karena tidak setiap hari aku bisa melihat berbagai jenis manusia mengenakan pakaian yang unik.

Tampaknya seluruh Jerman rela datang ke Köln untuk berpartisipasi. Bahkan aku sempat berkenalan dengan orang-orang yang datang dari Amsterdam khusus untuk ikut dalam acara ini. Semua orang terlihat bergembira dan aku mulai memperhatikan detil-detil pakaian mereka sambil mencoba mengabadikan momen itu melalui kamera.

Kapan lagi aku bisa melihat Joker dan Batman dalam keadaan gencatan senjata sambil duduk tertawa menikmati bir mereka sementara di sudut lain, aku lihat sepasukan smurf biru yang berjalan melintasi sekelompok pasukan Viking yang sibuk bernarsis ria dengan iPhone generasi terbaru. Ada juga sekelompok orang berpakaian lebah  yang sedang menggoda sepasukan SWAT, belum lagi gerombolan pahlawan komik Amerika yang menari mengikuti irama musik yang dimainkan oleh para kelasi. Kolaborasi yang unik dan asik untuk diperhatikan.

Khusus hari ini, Joker dan Batman berdamai

Khusus hari ini, Joker dan Batman berdamai

Setelah puas menonton, aku kembali berjalan menuju pusat kota dan secara tidak sengaja menemui beberapa orang teman kuliah yang ternyata sudah sedari tadi tiba di Köln untuk melihat-lihat karnaval. Setelah berbincang sejenak dan mereka dengan semangatnya bercerita mengenai murahnya harga Bir di saat karnaval, kami berpisah dan aku kembali berjalan, kali ini menuju arah sungai Rhein untuk melihat suasana disana. Disinilah aku baru melihat perbedaannya antara budaya Jerman dan negara lain.

Saat turun dari atas menuju pelataran sungai Rhein, aku sudah dicegat oleh polisi yang mengawal spanduk bertuliskan “Mehr Spass, ohne Glass” (banyak Senang tanpa gelas), yang artinya, ternyata sepanjang pelataran sungai memang sudah disetting sebagai kawasan yang anti benda-benda berbau beling, yang berarti pula daerah yang ramah dikunjungi bagi anak-anak. Dan memang benar, walau tanpa penjagaan yang ketat, aku hampir tidak menemukan ada botol minuman kecuali yang berasal dari plastik. Anak-anak pun bisa bebas bermain di sana. Suasana di sekitar sungai juga tetap tidak kalah ramai dan memang tempatnya bagus, sehingga aku memutuskan untuk berlama-lama duduk dan beristirahat disana.

Satu hal yang aku senangi lagi dari karnaval itu, semua orang bersikap ramah dan terbuka, jauh dari kesan kaku yang biasa aku hadapi dari orang Jerman selama ini. Beberapa orang malah dengan sukarela menawarkan diri untuk  di foto, tak terkecuali beberapa wanita cantik yang tentu saja kufoto dengan seikhlas hati. Baru tahu setelah sepulang tadi mencari literatur mengenai karnaval ini, bahwa ternyata, Karnaval yang punya sejarah dimulai sejak tahun 1341 ini juga ditandai dengan Women’s Carnival Day, yang katanya, adalah deklarasi kebebasan untuk wanita dan disana mereka punya hak untuk mencium siapa saja orang yang mereka suka. Harusnya informasi itu aku dapat sebelum berangkat sehingga aku tidak langsung ngeloyor setelah selesai memfoto para wanita tadi. Dang! Heheh.

Akhirnya, setelah puas dan merasa cukup menyaksikan aksi karnaval hari ini, aku putuskan untuk kembali ke Bonn dan memang, sepanjang perjalanan pulang juga di semua daerah yang aku lalui dari Köln hingga Bonn tampak semua orang tua ataupun muda masih sibuk hilir mudik dengan kostum-kostum mereka, merayakan bersama  hari karnaval ini. Tampaknya, Karnaval belum selesai dan sebenarnya aku juga masih ingin melihat seperti apa keadaan kota malam ini, yang sayangnya, aku juga masih punya tugas yang harus aku kerjakan di rumah sehingga mau tidak mau, aku harus melewatkan kesempatan itu akan tetapi dalam hati aku tetap merasa puas karena sudah menyaksikan untuk pertama kali suasana karnaval di negeri orang yang tentu berbeda dan menjadi pengalaman bagus untuk disimpan.

Sampai jumpa hari senin tanggal 7 Maret, saat Rosenmontag, dimana kabarnya,akan ada parade long march yang tidak kalah seru sambil (katanya juga) menebarkan hadiah seperti coklat dan permen. Sepertinya, hari senin ini aku harus menyiapkan kamera dan karung untuk menyimpan coklat! 😀

3 Comments

  1. wow,, pasti fun! bagi foto2 nya dong zuu

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑