Catatan akhir Ramadhan : Toleransi ala Rendang

Kamu tau nggak rasanya, kalau tangan kita terulur ke meja makan mau meraih rendang yang tampak menarik, tiba tiba tangan kita di tepuk dengan keras sambil dihardik kasar, “TIDAK BOLEH!”

Sedih, marah, kecewa dan yang pasti harga diri kita pasti terluka. Kalau aku, pastinya aku kehilangan selera untuk memakan rendang itu, dan malah mungkin berjanji tidak akan pernah menyentuh sajian lain di meja tersebut, semenarik apapun kelihatannya karena tak mau kejadian yang sama terulang lagi.

Sama halnya dengan rendang, temanku menceritakan pengalaman sedihnya mengantar seorang bule masuk ke mesjid ternama di Aceh. Baru saja dia menginjakkan kaki di tangga mesjid, seorang marbot mesjid datang dan menghardik dengan kasar “najis nggak boleh masuk!”. Apakah itu yang diajarkan Islam kepada pemeluknya? Aku kecewa karena dua hal

Pertama : tegurannya kasar

Kedua : atas dasar apa si Bule tidak boleh masuk ke dalam mesjid?

Oke, aku setuju dengan si Marbot jika dia berlaku tidak sopan atau pakaiannya tidak menutup aurat. Akan tetapi si Bule sudah memenuhi persyaratan itu untuk melihat isi mesjid. Niat dia baik kok. Karena itulah aku analogikan si Bule ini dengan rendang yang mau aku makan. Belum-belum si bule masuk mesjid, sudah di tepis duluan, dengan kasar pula. Aku jadi teringat di Blue Mosque Turki yang terkenal itu bahkan disediakan jalan khusus untuk non-muslim didalam mesjid agar para  pengunjung bisa melihat-lihat keadaan di dalam mesjid tersebut dengan tenang tanpa mengganggu orang yang beribadah. Rasanya ingin beradu pendapat seandainya si marbot itu ada di depanku, bagaimana jikalau si bule tadi memiliki momen yang baik tentang Islam karena melihat mesjid dan jemaahnya lalu tertarik untuk mengenal Islam, nah si marbot telah menghalangi peluang itu dengan menunjukkan perilaku tidak simpatik terhadap si bule. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan si bule itu sekarang terhadap mesjid dan si marbot sebagai representasi orang yang (seharusnya) lebih paham soal agama. Besar kemungkinan si bule kini memandang Islam dari sudut pandang yang buruk dan kita tidak bisa menyalahkan dia, karena impresi yang diterima saat itu juga buruk. Bisa jadi ia akan menjeneralisasi semua orang Islam dari sudut pandang yang sama. Sama reaksinya seperti aku yang keburu “dingin” dengan sajian makanan di atas meja yang tadinya kelihatan menarik.

Rasa-rasanya, saat Islam menjadi mayoritas, hal-hal yang baik tertutupi oleh tingkah segelintir pemeluknya yang seolah-olah merasa sudah menjalankan perintah Islam paling benar. Ini yang menjadikan pandangan orang Eropa sedikit phobia saat menyaksikan pertumbuhan Islam yang pesat disana. Mereka takut karena kita sebagai duta agama tidak memberikan pesan yang baik kepada mereka. Rasanya kita melupakan perintah rahmatan lil alamin yang dibebankan pada kita. Pesan yang salah itu yang di blow-up media barat karena kita yang tidak melakukan kesalahan juga terkadang lambat bereaksi atau malah membiarkan perilaku tersebut terjadi. Sedikit contoh, di bulan puasa ini di Indonesia penyerbuan dengan kekerasan ke berbagai restoran yang buka di siang hari malah semakin marak. Mana esensi puasa sebagai sarana “menahan diri”nya? Kita lebih kedepankan nahi munkar padahal kalimat amar ma’ruf dalam hadis selalu diletakkan di awal kalimat.

Aku takut, lebih banyak lagi orang yang awam menjadi “dingin” karena kesan pertama yang salah yang mereka dapat. Itulah yang membuat mereka keheranan saat aku bercerita kepada salah satu teman aku yang berambut pirang itu bahwa Islam di Indonesia tidak menyebar melalui penaklukan, tapi lewat perdagangan dan asimilasi dengan penduduk lokal. Dalam hati aku tertawa, mungkin mereka berpikir Islam itu sama dengan pedang terhunus. Lagi-lagi impresi yang salah. Sama seperti saat aku berujar “salam ‘alaikum” kepada teman seagama di atas kereta dan beberapa (tidak semua, loh!) pasang mata menatapku dengan curiga seakan-akan arti dari ucapan assalamu’alaikum itu adalah “Ayo kita bom orang-orang kafir disini!”

Aku kira, toleransi beragama bukannya berarti hendak melonggarkan perintah agama kita, tapi lebih memberikan ruang kepada orang lain untuk bisa memahami kita dari sudut pandang yang baik. Mudah-mudahan kisah si marbot tadi hanya kisah minor yang terjadi cukup satu diantara berjuta cerita positif yang diperoleh orang lain saat mereka berinteraksi dengan pemeluk agama Islam. Semua manusia memiliki akal dan bisa menilai sendiri kualitas suatu agama dari cerminan pemeluknya. Kekerasan bukan lagi metode ampuh untuk memaksakan idealisme kita terhadap orang lain. Granada dan Indonesia menjadi contoh nyata bagaimana dua metoda bisa menghasilkan efek berbeda. Disatu sisi, penaklukan bisa membuat satu negara menjadi Islam dengan instan tapi efeknya kini Granada tinggal bangunan kosong bagian dari sejarah masa lalu, sedangkan Indonesia dimana masuknya Islam dibangun dalam waktu yang berabad-abad menghasilkan Islam dengan pondasi yang lebih kuat dan long lasting.

Tirulah kebab di Jerman, hal sepele berupa makanan ini kini seperti menjadi duta bagi negara Turki (yang muslim) dan menjadikan proses asimilasi dengan warga asli Jerman berlangsung lancar. Warga Jerman kini menjadi penggila kebab walaupun mereka tahu, penjualnya rata-rata warga muslim dan mereka respek dengan itu. Satu langkah maju menuju toleransi, karena ternyata hal itu bisa dimulai dari hal-hal yang aku pikir sebelumnya remeh.

Pilihan di tangan kita. Aku sendiri sepertinya lebih cocok dengan prinsip lakum dinukum waliyadin. Lihat aku, “I am a muslim” dan aku ingin berperilaku baik kepada semua orang, karena itu yang diajarkan (oleh agamaku).

Wallahu a’lam!

3 Comments

  1. setuju sekali mas, siapa tau bule itu mendapatkan ilham dan akhirnya masuk islam .
    islam memang mengajarkan kita tentang toleransi kepada sesama makhluk ciptaan Allah S.W.T 🙂
    nice artikel , keep update & post 😀

  2. jd ingat pas ifthar di tabu, ada yg mau ngambil tempe, mira blg gak boleh jg hahaha..

    setuju sama tulisannya b.zuh..

  3. rambideunt

    November 1, 2012 at 6:06 pm

    armi : saya percaya agama adalah pilihan pribadi.. dan toleransi jika kita memang punya keyakinan yang berbeda dengan orang lain.
    mira : kalau tempe, silahkan ambil diam-diam. haha!

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑