Iceland Day 1 – 15 agustus 2012 – Enter the Land

Road to Reykjavik

Pagi itu, kami berangkat meninggalkan Jerman melalui bandara Bonn-KΓΆln pada pukul 00:30 menggunakan pesawat Iceland express. Tiga orang Indonesia: aku, Glenn dan Ardi, satu orang Ukraina: Nataliia, dan seorang lagi berkebangsaan India: Vyshantha. Yang aku herankan, sebenarnya harga tiket pesawatnya terhitung murah, sekitar 34 euro, atau circa 400 ribu rupiah untuk penerbangan selama 3,5 jam. Yang membuat mahal adalah harga airportnya. Jadilah tiket penerbangannya membengkak menjadi berkisar 200 Euro untuk tiket PP.

Setiba di bandara yang katanya terbaik di seluruh eropa itu (kategori bandara kecil), tepatnya di Keflavik Aku segera bergegas mengambil barang di bagasi. Urusannya terhitung cepat dan segera setelah dari sana, kami segera keluar untuk kemudian mencari taksi atau bus menuju rumah host kami yang terletak di antara bandara dan Reykjavik. Ternyata memang benarlah perkataan orang-orang bahwa Islandia adalah Negara yang terhitung mahal terutama untuk kantong pelajar. Bayangkan, untuk naik taksi berlima yang perjalanannya membutuhkan waktu kira-kira 15 menit, kami harus merogoh kocek 3500 ISK atau setara 300 ribuan.tapi karena memang tidak ada pilihan lain, waktunya sudah menunjukkan pukul 01:30 dinihari waktu Islandia, terpaksa pilihan itu kami gunakan.

Setibanya di tempat tujuan, sialnya ada kesalahan komunikasi sehingga ternyata si empunya rumah yang kami kenal lewat situs couchsurfing, menyangka kami tiba keesokan harinya. Jadilah kami terpaksa terlunta-lunta di depan pintu rumah calon host kami, karena setelah di telpon beberapa kali, beliau tidak mengangkatnya.

Untuk menghabiskan waktu hingga pagi hari, tidak ada pilihan lain kecuali berjalan-jalan disekitar kompleks perumahan Asbru yang merupakan bekas markas militer NATO. Karena sekitarnya yang cukup gelap, kita terpaksa berjalan sambil menerka-nerka jalan ke arah laut.

Setiba di bibir pantai, kami disapa dengan rawa yang dihuni ratusan ekor burung. Beberapa diantaranya seperti camar dan spesies burung khas Islandia lain. Tanah di sekitar rawa cukup aneh karena seperti menginjak gumpalan karet. Rupanya, memang seperti inilah tipikal tanah disana, yang merupakan lapisan campuran antara rumput, lumut dan tebak: lava! lava yang menebal menjadikannya seperti lahan gambut.

Pagi hari akhirnya kami kembali ke rumah host kami, dan disambut hostnya, sepasang suami istri bernama Koleen dan David, yang memiliki tiga orang anak kecil Kasper, Stefan, si kecil Leopold, serta seekor anjing jenis gembala islandia yang lucu bernama Rosa. Mereka keluarga yang ramah dan hangat. Koleen sendiri adalah seorang keturunan Kanada yang baru mendapat kewarganegaraan disana setelah lama menikah dengan David, dan sepertinya memang sering menyediakan tempat tinggalnya secara cuma-cuma untuk para backpacker. Aku menyadarinya saat menulis pesan di buku tamu yang penuh dengan catatan para backpacker dari seluruh penjuru dunia yang disediakan Koleen. Aku rasa filosofi hidup mereka cukup menarik juga, anak-anak mereka juga menjadi sudah terbiasa dengan keberadaan orang asing berbagai negara di rumah mereka. Di tempat Koleen juga sudah tinggal seorang backpacker lainnya, seorang Amerika bernama Benjamin yang rupanya sudah terbiasa bepergian karena latar belakangnya di bidang photo journalism. Dia bahkan bercerita sudah pernah backpacking ke Bali dan Lombok.

Sambil minum teh pagi itu Ben bertukar pengalaman dengan kita tentang tujuan wisata di Islandia, dan nampaknya memang karena kesulitan jadwal transportasi yang tidak jelas serta mahalnya biaya transportasi disini, bahkan Ben sendiri yang sudah dua setengah minggu disini belum menjelajahi bagian selatan dan utara Islandia.

Dari pertemuan pagi ini juga, aku mendapat dua joke khas Islandia:

“Apa yang dikatakan ibu vulkano kepada anaknya?” “I lava you”.

Dan dari Koleen, satu joke lagi, “Apa yang dilakukan orang Islandia saat tersesat di hutan?” “Stand up!” (berdiri) Karena di Islandia memang tidak memiliki hutan. Joke yang kedua ini hingga hari terakhir aku tinggal di Islandia, sering kali dilontarkan oleh orang-orang setempat yang aku temui.

Pagi itu setelah istirahat sekitar 2 jam, kami memutuskan berangkat ke Hrevagerdi, yaitu tempat dengan banyak sumber mata air panas. Berkaca dari pengalaman, kami memutuskan untuk menghemat pengeluaran dengan cara mencari tumpangan menuju ke tempat tujuan. Karena sulit mencari tumpangan sekaligus untuk berlima, kami memutuskan untuk menjadi dua kelompok kecil. Setelah hampir putus asa menjulurkan tangan di pinggir jalan selama setengah jam, akhirnya ada mobil yang berhenti dan menawarkan tumpangan hingga ke ibu kota ter utara di dunia ini, Reykjavik. Si empunya mobil bercerita bahwa orang asli Islandia rata-rata memang mempunyai sedikit batas dengan orang asing, jadi kemungkinan kecil kita untuk ikut hitchhiking dengan orang Islandia (hal yang dikemudian hari aku buktikan salah, karena banyak orang Islandia asli yang bersedia memberi tumpangan pada kami). Karena kebaikan si orang Maroko itu pula kami berhenti di jalan raya setelah Reykjavik, mungkin dia merasa kasihan. Setelah berterima kasih, kami kembali melanjutkan mencari tumpangan kedua hingga ke tujuan. Kali ini yang berhenti adalah seorang perempuan muda asal Swedia yang bekerja di peternakan kuda di dekat tempat yang kami tuju. Dia baru saja pindah ke sini karena kecintaannya pada kuda. sambil menyetir, ia menjelaskan bahwa karena dia pernah mengalami hidup sebagai backpacker di Islandia beberapa tahun yang lalu, maka dia mengerti susahnya mencari tumpangan gratis disini. Karena itulah maka ia bersedia berhenti dan menerima kami ikut mobilnya.

Ohya, sudah aku beritahu bahwa kuda-kuda di Islandia ini cantik-cantik? Mungkin berlebihan tapi memang kuda disini lebih cantik terutama rambutnya yang kata temanku, mirip rambut iklan shampoo sunsilk. Men, seumur hidup, baru kali ini aku merasa cemburu dengan rambut yang dimiliki hewan lain… Tapi yang mengherankan, walau mereka bangga akan kuda-kuda mereka, mereka juga menjadikan kuda sebagai sumber daging mereka selain sapi, domba dan babi. Jadi steak kuda merupakan hal yang jamak bagi penduduk Islandia.

Di Hrevagerdi, tempatnya yang merupakan gunung memang menawarkan keindahan panorama, akan tetapi memang rute yang disediakan benar-benar masih alami sehingga hiking yang kami lakukan memang betul-betul terasa melelahkan. Rute hikingnya lebih kurang 3 km dengan kontur lanskap yang naik turun. Terkadang kami memotong jalur yang ternyata membuat perjalanan semakin sulit. Akan tetapi di sejauh mata memandang, memang tempat ini sangat indah karena dipenuhi dengan hijau savanna dibelah dengan sungai-sungai kecil yang menyatu dengan beberapa sumber air panas alami, sehingga disepanjang jalan, suhu air di sungai akan terus berubah-ubah.

Hveragerdi

Akhirnya setelah puas menjelajahi daerah ini, yang ditutup dengan ritual mencelupkan kaki di sungai dengan maksud melepas lelah sambil memuaskan rasa ingin tahu akan sensasi hangat di sumber mata air, kami memutuskan untuk kembali pulang. Sebenarnya, jika masih mau terus, dikatakan terletak danau dengan air yang hangat yang katanya bisa digunakan untuk berendam. Tapi karena waktu yang tidak cukup, trayek bus sangat jarang dan mahal, sehingga pilihan memang sangat terbatas.

Untuk kembali ke Reykjavik, kami memutuskan menumpang bus (baca:bayar) dan setibanya disana supir bus yang baik hati ini menawarkan kami ikut naik mobilnya secara cuma-cuma karena ia selesai bertugas dan pulang kearah yang sama dengan tujuan kami di Asbru.

Kira-kira beberapa kilo lagi dari Asbru, kami diturunkan dan kami kembali mencari tumpangan. Dan kali ini tanpa kami sadari yang berhenti adalah sebuah taksi, dan syukurlah, si pemilik taksi yang baik hati mengizinkan kami ikut karena dia juga lewat rute sama kearah Asbru. Setengah bercanda, temanku berujar baru kali ini dia berjumpa pemilik taksi yang menggratiskan tumpangan kepada para penumpangnya, bahkan dia sampai merasa, bahwa kepercayaan dia terhadap rasa kemanusiaan manusia sudah kembali.

Malam itu, setibanya di rumah host pertama kami kembali, sambil bergiliran mandi malam dan mempersiapkan diri istirahat untuk esok hari, kami saling berbagi cerita dengan Koleen dan David, dan aku sendiri, menyeduh indomie yang kubawa dari Jerman. Ah, memang letih yang tadi terasa menjadi sirna setelah diganti dengan mandi air hangat dan semangkuk indomie, diselingi cerita-cerita dari kita semua. Koleen dan David yang ramah, serta ditemani Rosa si anjing gembala Islandia yang tidak mau berhenti minta dielus perutnya sampai ia tertidur. Mudah-mudahan besok perjalanan tetap lancar dan tanpa ada kesulitan yang berarti.

–bersambung–

Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat(1)
Bagian Empat(2)

28 Comments

  1. new blog entry! wow!

  2. I’ve been longing to update my blog. but too lazy to do so :mrgreen:

  3. Amaziingg! Iceland is the Dream country for me πŸ˜€

  4. rambideunt

    November 1, 2012 at 10:33 pm

    ayo, kamu pasti bisa kesana!

  5. Seru banget baca nya! Sungguh bikin iri dan jadi smakin pengen kesana. Iceland negara yang pengen banget aku kunjungin. Bismillah semoga bisa nginjekin kaki disana πŸ˜€

  6. Emang indah banget ya Iceland itu.. Keren kak blognya!!
    Kalo ada waktu membaca sy juga membuat blog tentang Iceland http://www.etaporama.com/iceland/
    Cheers

  7. Wandari D. Rosidayati

    July 2, 2014 at 5:21 am

    Selamat datang di Iceland yaaa :p

  8. wow mantap, bang salam kenal, boleh mungkin bang saya tanya2 detail untuk backpack dari indo kesana, saya pingin banget kesana udah nabung 2 taon ini bang, tahun depan kalo diberi kesempatan mungkin.. πŸ˜€
    tx b4

  9. adakah sodara kita yang tinggal di iceland? pengen ih kesana πŸ™‚ mau tanya tanya neeh πŸ™‚

  10. pengen ke islandia. butuh biaya brapa kira-kira?

  11. hallo, kalo ke Iceland lagi kabarin ya?hehehe

  12. hallo!! kalo ke Iceland lagi bilang2 heheh

  13. Fitriya Ningrum

    February 4, 2015 at 4:48 pm

    kak, info dong biaya utk ke iceland pas kakak ke sana πŸ™‚ pengen lanjut kuliah di sana sih sebenarnya hehe

  14. Halo kak πŸ™‚ info dong kak biaya ke iceland pas kakak ke sana πŸ˜€
    pengen lanjut kuliah di sana sih sebenarnya, hehe jadi lg nyari2 info πŸ˜€

  15. ada yg tau jalan ke islandia dr indo dgn budget ringan

  16. sumpah tuliasan ente memotivasi saya untuk kesana

  17. hi….aku juga lagi kepingin bgt ke iceland. lagi siap” buat backpacker thn dpn. gmn ya caranya nyari host disana???

  18. pengen nangis:( how lucky you are. you really had an amazing trip ever:(

    • rambideunt

      December 20, 2015 at 1:17 am

      Terima kasih πŸ™‚ Mudah-mudahan Salma juga bisa dapat kesempatan menjelajah negeri lain terutama Islandia.

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑