Iceland Day 2: 16 Agustus 2012 – Kabut Kabut dan Kabut

Tahukah kamu, fakta bahwa orang Islandia dapat mencantumkan dengan bebas pekerjaan mereka di buku telefon? Jadi jangan heran di buku telefon mereka, kita bisa menemukan profesi aneh, semacam “Alien Tamer”, atau “Jedi Master”. Haha. Ada-ada saja…

Hari ini, perjalanan kami dimulai pada pagi hari, kira-kira pada pukul 7 pagi. Cuaca tidak bersahabat. Jalanan dipenuhi dengan kabut. Dalam hati aku merasa agak sedikit kecewa membayangkan apa jadinya hari ini jika sesampai di tujuan kami selanjutnya, objeknya tertutup kabut tebal.

Untungnya, kekhawatiranku tidak menjadi kenyataan. Beberapa jam kemudian, seiring dengan makin tingginya matahari, kabut yang tadinya menyelimuti Islandia mulai hilang, berganti dengan panas dan sinar matahari.

Tentu saja, hari ini bakal menjadi hari yang lebih melelahkan. Bukan saja karena nanti akan kembali mencoba menaklukkan salah satu objek wisata di Islandia yang harus dicapai dengan hiking beberapa kilometer, namun juga dikarenakan kami harus pindah ke tempat penginapan di Hellisholar, berarti pula kami harus membawa serta semua barang bawaan kami seraya ber hiking ria.

Tumpangan kami mengantarkan kami hingga ke ujung jalan masuk ke Glymur. Dari sana sebenarnya bisa saja kami memutuskan untuk menunggu sampai ada mobil yang masuk tapi kami memilih untuk berjalan kaki masuk. Lumayan ada sekitar 5-7 kilo jalan kecil yang harus kami tempuh dengan berjalan kaki hingga kami mencapai gerbang masuk ke Glymur. Sesampai disana dan memperhatikan dengan seksama peta yang tersedia, kami memutuskan untuk hanya hiking sampai dengan POI di tengah, yang berjarak sekitar 5.5 km dari gerbang masuk, dengan pertimbangan kondisi beban yang kami bawa dan jarak tempuh kembali turun nantinya. Sebenarnya kami duluan tiba disana, karena kami memang membentuk dua grup kecil untuk memudahkan mobilitas kita (mencari hitchhiking) sehingga akhirnya tanpa menunggu kedua orang rombongan lain yang masih dijalan, kami memutuskan untuk mulai hiking.

Glymur01

oh Hai, itu aku sedang melambaikan tangan dari seberang bukit. Dan air terjunnya masih belum kelihatan karena masih tersembunyi di balik rekahan gunung di belakang sana

Seperti sebelumnya di Hveragerdi, jalan yang kami lalui terbilang cukup ekstrim, bahkan bisa dibilang hampir 80% jalannya hanya jalan setapak yang cukup susah untuk dilalui. Tapi herannya, aku lihat banyak juga pengunjungnya yang sudah cukup berumur disana, padahal untuk menaklukkan jalan ini dibutuhkan  stamina yang luar biasa.

Setelah melewati pendakian dan jalan yang curam, menyeberangi sungai dengan arus yang cukup deras hanya dengan bantuan gelodongan kayu dan seutas kawat, akhirnya kita tiba di titik yang menjadi target. Kelelahan segera terbayar saat bisa menyaksikan air terjun Glymur yang cukup spektakuler karena ketinggiannya sekitar 196m menjadikannya air terjun tertinggi di Iceland, dan juga kontur air terjunnya yang seperti membelah gunung, apalagi ditambah dengan sinar matahari yang tepat pada posisi berlawanan dengan air terjun sehingga menciptakan efek pelangi di air yang jatuh mengalir ke sungai di bawahnya. Jarak kami memang masih jauh dari air terjun tapi karena waktu dan kondisi jalan yang tidak memungkinkan, kami hanya bisa memandangi air terjun Glymur dari jauh, tapi tetap saja, deburan airnya sudah terdengar menderu dari tempat kami berdiri dan pemandangannya, tentu saja. Luar biasa!

Setelah beristirahat sambil menunggu kelompok kedua sampai di tempat kami, aku mencoba mengambil sedikit air dari mata air yang kebetulan ada di dekat tempat kami beristirahat untuk diminum, karena memang kata orang islandia, kita bisa minum air dari sungai manapun di negara ini. Dan memang, rasa air dari sumber mata air ini dingin menyegarkan, membuatku merasa refresh kembali setelah lama tadi sebelumnya lelah berjalan kaki. (oke, aku akui, dari awal tiba ke Iceland aku mengambil keringanan seorang musafir untuk tidak berpuasa. Mudah-mudahan Allah mengampuni 🙂

Glymur 02

kamu pikir air terjunnya kecil? Coba lihat dua orang disebelah kanan, itu adalah pembanding ukuran air terjunnya, padahal mereka saja masih setengah jalan lagi untuk sampai ke air terjun

Baik, sudah cukup dengan foto narsis-narsisnya dan istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan kembali ke bawah dan menuju jalan raya. Hari itu, aku merasa agak sial karena hari sudah menjelang sore dan jalan utama memang agak sepi dari mobil yang lewat, sehingga untuk mendapat tumpangan ke arah Hvolsvöllur, kami harus mengacungkan jempol minta tumpangan hampir selama satu jam, sebelum akhirnya mendapat tumpangan seorang pria ramah yang juga merupakan kapten kapal, yang menceritakan tentang sejarah di sekitar daerah itu yang dulunya merupakan tempat pengolahan ikan paus. Dari beliau juga, kami mendapat pengetahuan tentang makna tumpukan batu yang terlihat di sepanjang jalan di seluruh Islandia, yang rupanya merupakan penanda batas bagi pemilik tanah disana.

Dan, setelah tiba di Hvolsvöllur, rupanya tempat penginapan kami juga terletak in the middle of no where. Hellisholar benar-benar resort terpencil yang terletak di jalan kecil dan hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki sepanjang 13 km. atau 10 menit dengan mengendarai mobil (yang sayangnya sedikit sekali lewat jalan itu), jadi harapan kami hampir sirna untuk bisa mendapat tumpangan hingga sampai ke tempat tujuan. Aku hitung, selama sejam berjalan dari jalan raya di depan Hvolsvöllur, hanya sekitar kurang dari 10 mobil yang lewat. Untung saja, kira- kira di kilometer ke 7 atau 8, ada seorang pengendara yang baik hati berhenti dan menawarkan kami tumpangan, bahkan diantar sampai ke pintu resepsionis. Lumayan, menghemat berjalan 5 kilometer 🙂

Cottage yang kami sewa itu sebenarnya cukup bagus, akan tetapi karena akses menuju ke sananya yang terbatas itulah yang menyebabkan harganya murah. Dalam hati aku berpikir, ah, lebih baik lain kali aku membayar sedikit mahal daripada harus mendapat tempat di lokasi sejauh ini.

Tetapi, yang sudah terjadi sudah terjadi. Jadilah malam itu kami berlima menginap di satu ruang cottage yang hanya memiliki 2 tempat tidur, sehingga sebagian harus rela untuk tidur di lantai. Tak masalah karena semuanya sudah merasa lelah dan kami merasa harus beristirahat untuk melanjutkan petualangan esok hari. Total, kurang lebih hari itu aku berjalan 40-50 km dengan membawa ransel 25 kilogram. Not bad for a geeky computer science student, eh?

–bersambung–

Bagian Satu
Bagian Tiga
Bagian Empat(1)
Bagian Empat(2)

6 Comments

  1. jd pengen saia..

  2. Kapan ya bisa ke Iceland.

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑