Don’t judge the book by it’s cover. Jangan menafsirkan tempat dari namanya. Iceland di musim panas adalah pulau tanpa es, kecuali di beberapa puncaknya. Sebaliknya, Greenland, walaupun ada unsur “green” dalam namanya, sepanjang tahun malah selalu ditutupi oleh es. Entah orang jenius mana yang menamakan kedua pulau ini, masih menjadi misteri bagiku.

Oke, jadilah kami pagi itu berangkat dengan disertai semangat 45. Bukan karena rasa nasionalisme semata, tapi karena malam sebelumnya sudah cukup mendapat istirahat. Tujuan sebenarnya adalah Vik, daerah pantai di timur Islandia yang terkenal sebagai tempat untuk melihat si burung ber tuksedo alias Puffin.

Kali ini, rombongan kami kembali dipecah menjadi dua lagi untuk memudahkan mendapatkan tumpangan. Setelah rombongan pertama sukses mendapat tumpangan, aku, Ardi dan Natalii akhirnya mendapat tumpangan seorang tur guide. Dari beliaulah dia menyarankan kami untuk mampir ke Seljalandsfoss, salah satu dari air terjun (lagi?) yang cukup terkenal di Iceland. Dengan diiming-imingi tumpangan sampai ke tempat tujuan wisata itu karena kebetulan si pengemudi memang mau menjemput rombongan tur disana, dan cerita bahwa di Seljalandsfoss sedang ada syuting Film Noah’s Ark yang dibintangi Russel Crowe, jadilah kami bertiga tergoda imannya dan memutuskan untuk ikut beliau mampir ke sana, dengan pertimbangan, nanti secepatnya kami akan menyusul Glenn dan Vyshantha ke Vik.

Yang membuat Seljalandsfoss istimewa adalah karena selain ukuran air terjunnya yang cukup besar, dan jatuh dari ketinggian 60 m, kita juga bisa berputar mengelilingi air terjun ini karena ada ceruk yang cukup lebar di tebingnya. Untung saja, aku sudah mempersiapkan diri dengan membawa jaket anti air, sehingga kamera dan bajuku tidak basah kuyup terkena guyuran air terjun.

Seljalandsfoss

Uh oh, seperti pemeran penjahat di Film I know what you did last summer…

Air terjun massif, lanskap hijau menghampar khas Iceland, apa lagi yang kurang? Sayangnya kami tidak bisa mendekat ke tempat syuting film Hollywood itu karena daerahnya tertutup untuk rakyat jelata seperti kami.

Untuk mempersingkat waktu, setelah puas mengelilingi air terjun dan mengaguminya, kami bergegas menuju ke pinggir jalan raya untuk mencari tumpangan ke Vik. Saat itulah aku merasa kesialan yang lebih dibandingkan pada hari sebelumnya. Jalan raya itu memang tidak terlalu sepi, akan tetapi hampir tidak ada mobil yang mau berhenti untuk ditumpangi, padahal kami sudah berdiri hampir selama dua jam. Setelah putus asa karena tidak mendapat tumpangan, kami bertiga memutuskan untuk membatalkan agenda ke Vik karena waktu yang sepertinya tidak memungkinkan.

Alternatif satu-satunya adalah menikmati daerah ini dan menjelajahi sekitarnya. Ternyata, Iceland memang nggak ada matinya. Kesialan itu membuatku bisa mengamati daerah sekitar Seljalandsfoss dan rupanya, sungai yang mengalir di sekitar tempat itu merupakan bagian dari Gletser yang mencair dan bermuara ke lautan. Jadilah kami berjalan menyusuri pinggiran sungai itu sambil berharap melihat muara laut. Akan tetapi lagi-lagi karena waktu tak terasa sudah mulai sore, dan mempertimbangkan tempat menginap kami yang jauh dan kemungkinan untuk mendapat tumpangan semakin kecil jika waktu menginjak semakin larut, kami kembali ke jalan raya dan mencoba peruntungan untuk mendapat tumpangan kembali. Kali ini rupanya kami lebih beruntung. Sekitar setengah jam menjulurkan tangan di tepi jalan dengan harapan mendapat tumpangan, rupanya ada serombongan turis Perancis yang membawa bus singgah di Seljalandsfoss sudah memperhatikan kami sedari tadi dan merasa iba sehingga memanggil kami dan mempersilahkan kami untuk ikut di dalam bis mereka. Untunglah.

Setibanya di penginapan, walau dengan sedikit kecewa karena nggak mendapat kesempatan seperti Glenn dan Vyshantha untuk melihat Puffin, setidaknya kami bisa mendapat kesempatan untuk menjelajahi air terjun Seljalandsfoss. Aku dan Glenn saling bertukar pengalaman masing-masing. Satu hal positif lain yang kudapat hari ini, aku mendapat sebuah lego di pinggir jalan di Seljalandsfoss. Orang-orangan berseragam khas islandia yang mengingatkanku akan legenda Hidden people alias Elf di sana.

Eh, sebelum aku tutup cerita hari ini, kamu tahu nggak, cerita elf itu ternyata berasal dari folklore masyarakat skandinavia. So, di zaman dahulu, para Viking islandia sangat percaya dengan keberadaan mereka. Hingga kini, di daerah barat Iceland, kita masih bisa menjumpai sebuah kampung yang katanya diyakini merupakan kampung para elf. Wow. Sayang hingga akhir perjalananku di Islandia, aku nggak mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki ke sana…

-bersambung-

Ps: Seperti inilah rupa si burung puffin. Makhluk ini biasa hidup di tebing yang tinggi dekat laut dengan angin yang kencang agar terhindar dari predator. Credit photo to Vyshantha.

Bagian Satu
Bagian Dua

Bagian Empat(1)
Bagian Empat(2)