Lo there do I see my Father
Lo there do I see my Mother, my Sisters and my Brothers
Lo there do I see the line of my people
Back to the beginning
Calling me to join Them
Bidding me to take my place among Them
In the Halls of Valhalla
Where the brave
May live
Forever.

“Viking Death Prayer” – The 13th Warrior

Bagaimana membedakan antara nama laki-laki dan perempuan di Skandinavia? Mudah, Laki-laki pasti memiliki nama belakang berakhiran son, dan perempuan berakhiran dottir. Contoh gampangnya, Zuhra Sofyansson artinya Zuhra bin Sofyan, dan Sigríður Jonsdottir artinya Sigríður binti Jon.

Pagi itu udara cukup cerah. Dan kami kembali berencana untuk pindah penginapan. Kali ini kami pindah ke daerah tengah Icelandia, tepatnya di camping site di tepi danau Ulfljotsvatn, yang juga merupakan tempat perkemahan pramuka. Harga penginapan disini cukup murah, kita hanya perlu membayar sekitar 18 Euro permalam, untuk penginapan indoor.

Belajar dari pengalaman bahwa untuk mendapatkan tumpangan bagi tiga orang sekaligus ternyata sangat sulit, maka kami memutuskan untuk membagi grup menjadi tiga. Aku bersama Glenn, Natalii bersama Ardi dan Vyshantha seorang diri. Seperti biasa, kami harus berjalan dulu sekitar 13 km menuju jalan raya. Dan setibanya di jalan raya, kami harus menanti tumpangan menuju ke arah Reykjavik, karena memang tempat menginap nantinya terletak di arah sana.

Tumpangan aku dan Glenn kali ini adalah seorang perempuan muda Islandia yang baru selesai dari kerja shift malam sehingga terlihat sedikit mengantuk saat mengemudi, namun dia tetap banyak bercerita tentang bagaimana dia selalu mengumpulkan uang hasil kerjanya untuk backpacking dan berencana mengunjungi banyak tempat di dunia nantinya. Kami berdua punya agenda tersendiri. Sebelum sampai di tempat tujuan, kami minta diturunkan di daerah Selfoss, karena beberapa hari sebelumnya kami melewati jalan itu dan melihat KFC yang cukup besar disana. Setelah beberapa hari cuma makan Indomie, sarapan biji-bijian dan makanan sehat lainnya, sudah saatnya perut ini harus diisi dengan sesuatu yang layak. Terutama untuk standar citarasa kami berdua. Dan mampir untuk makan di KFC adalah kesempatan besar yang sayang untuk dilewatkan.

Touchdown!

Dengan kalap kami berdua memesan menu makanan di KFC yang paling lengkap dan makan dengan lahapnya. Kelakuannya persis seperti film Harold and Kumar go to white castle.

Setelah menghabiskan makanan dan merasa puas dengan menu makanan kami kali ini, segera kami berencana menyusul teman-teman yang menurut sms terakhir sudah tiba di tempat penginapan  yang baru. Akan tetapi, dasar memang berdua bebal, karena kekenyangan dan jenuh melakukan pejalanan panjang selama ini, kami berdua akhirnya membodoh di pinggir jalan. Membodoh disini dalam pengertian bahwa kami berdua duduk di tepi jalan tanpa melakukan apa-apa, hanya menatap orang-orang yang lalu lalang entah berapa lama. Puas membodoh selama beberapa jam, akhirnya aku bertanya kepada Glenn tentang rencana selanjutnya. Ke perkemahan atau membelot dari jadwal yang sudah direncanakan.

Pilihan jika kami berdua tidak mengikuti rencana hari ini adalah pergi ke Reykjavik. Dari sejak kemarin hingga tadi pagi, semua pemberi tumpangan kami bercerita tentang 1001 alasan kenapa kami harus ke Reykjavik pada hari ini. Reykjavik malam ini merupakan culture night. Festival besar yang cuma dirayakan setahun sekali. Bisa dipastikan momen ini sayang dilewatkan begitu saja, apalagi kita sudah mulai jenuh dengan hanya mengunjungi air terjun. Tentu seperti halnya makan di KFC setelah berhari-hari cuma makan müsli, mengikuti festival tahunan di Iceland merupakan pengalaman baru yang menarik setelah hari-hari sebelumnya kami melihat banyak air terjun. Setelah menimbang-nimbang tentang anggota grup yang lain akhirnya pertanyaan bodoh pamungkas itu aku tanyakan juga pada Glenn. “Glenn, ke Reykjavik kita?” disambung dengan jawaban “What the hell.. lets go!” jadilah kami berdua berbalik menyeberang jalan, mencari tumpangan menuju arah sebalik dari arah penginapan kami. Kami menuju Reykjavik!

Disaat menunggu inilah kami berdua menjumpai pengalaman sedikit aneh. Kami berdua didekati seorang bapak tua bersepeda yang dengan ramahnya menanyakan tujuan kami. Saat dijawab dengan sopan bahwa kami hendak ke Reykjavik, beliau menyarankan untuk mencari tumpangan di daerah seberang jembatan agar lebih mudah mendapat tumpangan, karena jalan kami berdiri saat itu ternyata dekat dengan percabangan, satu cabang setelahnya jembatan menuju Reykjavik dan satunya membelok ke arah lain. Yang membuat keadaan menjadi sedikit awkward, bapak itu bertanya lagi tentang “Have you found Jesus?” Oh, tentu saja kami jawab dengan sopan bahwa kami berdua adalah muslim. Pada akhirnya setelah menghadiahkan kami brosur tentang gereja beliau, dia dengan senyum simpul berkata bahwa pada akhirnya jika kami mencari kebahagiaan, “Kebahagiaan itu letaknya disini” kata beliau sambil menunjuk ke arah hatinya, dan kemudian berlalu dengan misteriusnya.

Sesudah mengikuti saran bapak itu, kamipun dengan segera mendapat tumpangan ke Reykjavik. Kali ini tidak begitu sulit karena memang pada hari itu banyak mobil yang lalu lalang menuju ke arah sana. Kami duga mereka semua pasti ingin melihat festival yang sama. Sekedar bercanda, Glenn berkata bahwa dia merasa seperti sudah dibaptis oleh si bapak tua tadi menjadi backpacker-hitchhiker sejati.

Akhirnya, Reykjavik!

Reykjavik

-bersambung-

 

Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat(2)