Iceland Day 4: 18 Agustus 2012 – All Roads Lead to Reykjavik! (Part 2 of 2)

 

Seperti yang sudah kami duga sebelumnya, ibukota Iceland sudah padat dengan ribuan orang yang hilir mudik di sekeliling kota. Tidak susah untuk melihat ke arah mana pusat acara nantinya akan dilaksanakan, karena semua orang sepertinya bergerak ke arah yang sama. So, karena kami tiba di sore hari dan sepertinya festival musiknya akan dimulai beberapa jam lagi, kami gunakan kesempatan yang ada untuk berkeliling seputar kota. Taman kota, jalan-jalan utama, semua kami sambangi. Sampai akhirnya, kami tiba di main venue. Alun-alun kota Reykjavik.

Udara yang panas di sore itu membuat pelataran yang berupa bukit yang menghadap ke arah main stage sudah mulai penuh berisi muda-mudi dan keluarga yang memang menunggu dimulainya acara, atau sekedar berjemur di bawah teriknya matahari. Aku duga cuacanya berkisar antara 20-23 derajat. Musisi yang akan tampil pun sudah mulai menapak ke panggung dan melakukan check sound.

Sambil menikmati cahaya matahari, aku perhatikan suasana sekitar. Banyak keluarga yang membawa bayinya menikmati suasana festival di tempat itu. Nampak sekali memang acara ini dirancang untuk bisa dinikmati oleh semua usia. Dan aku menyukai interaksi orangtua-anak di Iceland. Aku lihat mereka tidak sungkan memperlakukan bayinya seperti mainan. Dibalik-balik, diputar, digelindingkan, bahkan mereka membiarkan anak-anak mereka berinteraksi dengan orang asing. Dan semuanya gembira. Hal yang sama yang jarang aku lihat dilakukan oleh orangtua di Jerman. Hal ini yang nantinya aku tanyakan pada Koleen belakangan, dan dari pengakuan dia, memang mereka sangat menghargai nilai keluarga dan bangga pada anak-anak mereka.  Mungkin juga ini warisan darah Viking mereka. Haha.

Akhirnya, tepat pukul 20:00 dan festival musik pun dimulai. Semua musisi lokal paling terkenal di Iceland (minus Sigur Ros yang sedang tur keliling Eropa) dari berbagai genre silih berganti tampil di panggung. Semakin malam, suasana semakin ramai. Aku hampir tidak bisa melihat ke arah panggung karena lapangannya tertutupi oleh lautan manusia. Iceland yang sepi tiba-tiba menjadi hiruk pikuk. Aku rasa, sepertiga dari seluruh penduduk Iceland tumpah ruah di Reykjavik malam itu. Musik Folk, Jazz, Pop berkumandang silih berganti. Ibu-ibu didepanku mengajari anak-anak kecil sekitarnya ikut bergoyang tangan dan kaki.

Reykjavik Culture Night 2012

Akan tetapi, dari sekian banyak penampil pada malam itu, aku tertarik pada seorang penyanyi yang menurutku bernyanyi luar biasa malam itu. Eivør Pálsdóttir. Penyanyi Folk yang berasal dari kepulauan Faroe. Mendengar suara sopranonya yang membius menyanyikan lagu-lagu dengan melodi khas Skandinavia seperti Elizabeth Og Elinborg, Nú Brennur Tú Í Mær, dengan iringan gitar solo atau genderang yang ia bawakan sendiri, membuatku merinding. Seperti mendengar Hildur, ratu para peri Elf sedang bernyanyi langsung di telingaku. Sungguh, saat itu aku dan Glenn berdecak kagum berkali-kali saat ia bernyanyi. Dan puncak penampilannya adalah saat ia membawakan lagu Trøllabundin (spellbound). Saat itu juga rasanya seperti aku diajak mengangkat Mjolnir dalam lautan pasukan Viking yang akan bersiap menaiki kapal, berangkat perang, menghabisi bastard-bastard yang sudah berani menginjakkan kaki di tanah Nordic ini dan pulang menjemput valhalla.

Untuk yang penasaran, bayangkan diri anda ditengah puluhan ribu manusia Viking, mendengar lagu ini secara live

Spellbound I am, I am
The wizard has enchanted me, enchanted me
Spellbound deep in my soul, in my soul
In my heart burns a sizzling fire, a sizzling fire

Spellbound I am, I am
The wizard has enchanted me, enchanted me
Spellbound in my heart’s root, my heart’s root
My eyes gaze to where the wizard stood

Hari semakin malam, kami larut dalam suasana festival. Akan tetapi ada satu hal yang terlupa. Kemungkinan kami untuk kembali ke penginapan sangat tipis mengingat keadaan jalan yang pastinya kacau balau selepas festival berakhir tengah malam ini. Mencari penginapan di sekitar kota hampir mustahil karena tadi sebelum ke pusat kota, kami sempat mengecek beberapa hostel dan semuanya full. Kemungkinan terbesar adalah kami menginap di alam tebuka di kota Reykjavik malam itu. Satu kemungkinan lain adalah kami menghubungi Mbak Di, seorang warga Indonesia kenalan Glenn yang menetap di Reykjavik dan jika beruntung, siapa tahu kami bisa menumpang menginap malam itu.

Akan tetapi setelah mencoba mengirim pesan dan menelpon beliau, sepertinya tidak ada respon. Rasa was-was tentu saja semakin membesar karena kami belum tau seperti apa jika kita terpaksa menginap di alam terbuka, jangan-jangan nantinya kita malah diciduk polisi setempat karena dianggap gelandangan. Untung saja, tepat beberapa saat sebelum festival berakhir, respon yang ditunggu datang. Walau Mbak Di saat itu sibuk dan tempat beliau penuh karena kedatangan saudara dan keluarganya dari Indonesia, beliau mengizinkan kami menginap ditempatnya. Dan kebetulannya lagi, dia sedang berada dekat di tempat festival karena ingin menyaksikan kembang akhir di akhir acara nantinya. Fiuh. Lega rasanya.

Dan, tepat saat  kita berjalan ke arah meeting point, festival ditutup dengan kemeriahan kembang api yang diluncurkan dari kapal-kapal yang berada di tepi laut di pinggir kota Reykjavik. Aku yang sedang berjalan, langsung berhenti dan kembali takjub akan kemegahan penutupan acara dan terdiam menyaksikan langit kota Reykjavik yang terang benderang dengan warna warni kembang api yang diluncurkan dari kapal-kapal di tepi laut, bercampur riuh ledakan dan berbagi teriakan pengunjung yang menyaksikan acara itu.

Suasananya menjadi emosional, karena malam itu, malam yang bertepatan dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Ini adalah malam lebaran paling spektakuler yang pernah aku alami seumur hidupku.

Diam-diam, aku tersenyum dan sambil terus berkali-kali membidik kamera ke arah sumber cahaya kembang api, tanganku mengepal ke udara, menikmati malam kemenangan ini. Terima kasih Sang Maha Pencipta!

 Reykjavik Culture Night 2012

-bersambung-

Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat(1)

2 Comments

Leave a trace of your presence...

© 2018 Rambideunt

Up ↑