Snap this gem in front of Kölner Dom

Snap this gem in front of Kölner Dom

Laki-laki paruh baya itu kurus, duduk di tepi tangga di dalam kereta kelas ekonomi yang penuh sesak. Tangan kirinya menggenggam gitar tua dengan stiker Ich Liebe Stuttgart, sedang tangan kanannya bolak-balik menaikkan kaleng bir ke dalam mulutnya.

Dengan baju lusuh khas gelandangan dan topi pet yang miring, lelaki itu menyapa penumpang lain yang berdiri disekitarnya. Lalu, untuk mengusir kebosanannya di dalam kereta api yang tanpa ekspresi dan tanpa suara itu, dia meletakkan kaleng bir yang sedari tadi ditenggaknya di lantai, lalu mulai memangku gitarnya dan menyanyikan beberapa lagu. Suaranya yang pas-pasan memecahkan keheningan kereta api yang semula hanya diisi suara kereta yang tengah melaju.

Adalah sebuah kemewahan untuk mendengarkan hiburan musik secara live di dalam kereta api Jerman. Jangan bandingkan dengan Indonesia tentunya. Dan sembari menyesuaikan tempat berdiriku yang sempit, diam-diam aku menikmati hiburan sederhana itu.

Lagu pertamanya adalah sebuah lagu riang khas Jerman. Semacam lagu yel-yel sepakbola yang biasa dinyanyikan para fans mabuk setelah pulang dari stadion bola. Setelah itu, dia berhenti sejenak. Menatap sekelilingnya, dan melanjutkan lagu kedua. Lagu ini terasa familiar karena dinyanyikan dengan bahasa Inggris. Pronounciationnya not bad lah untuk seorang gelandangan. Lagu balada yang sekasta dengan lagu-lagu Iwan Fals. Kali ini laki-laki itu menyanyi dengan lirih dan penghayatan luar biasa hingga aku akan percaya kalau seandainya dia mengaku bahwa lagu ini adalah lagu ciptaannya sendiri. Tak terasa aku tersenyum. Dimataku, si gelandangan ini tak kalah dengan filosof kelas dunia. Entah sengaja atau tidak, liriknya menyentil semua orang yang ada di dalam kereta itu. “Everybody has something to do” itu adagium yang diagungkan dalam liriknya.  Kutatap kembali satu persatu orang yang berdiri disekitarku sambil menerka-nerka “something to do” nya mereka. Pria berjas eksekutif dengan koper berat yang terus dia tenteng, wanita yang membawa kucingnya di dalam box, Pemuda India yang terus berbicara berganti-gantian dengan dua HP yang tak lepas dari tangannya, muda-mudi yang asik dengan earphone mereka, bahkan hingga jauh ke dalam gerbong kereta api. Yep, si pelantun lagu itu bahkan akupun untuk jangka waktu kedepan punya rencana-rencana “to do” tersendiri, yang unik dan berbeda dengan tiap orang.Dan hari ini, tanpa saling mengutarakan maksud dan tujuan kami, semuanya berjejal di dalam kereta merah ini dan dipaksa menyimak lagu si pria gembel ini tentang tujuan hidup, hingga selesai.

Lagu-lagunya berakhir, Masinis mengumumkan kereta akan tiba di stasiun Köln yang kutuju. Kereta segera berhenti. Si lelaki itu menyisihkan gitarnya sehingga orang lain bisa melewatinya dan turun. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Dia balas menatapku dan ikut tersenyum. Akupun bergegas turun dan meninggalkan kereta itu.

Terima kasih pak, sudah memberi hiburan menyenangkan yang bisa mempekerjakan otakku selama 25 menit diatas kereta tadi. Memberikan secuil pancingan pemikiran tentang rencana-rencanaku yang harus dan sedang aku lakukan. Semoga gitar anda terjaga dari rayap dan percikan bir, dan bisa terus membagi lagu-lagu anda yang mungkin akan memberi hiburan di level yang sama pada orang-orang seperti saya ini. Terima kasih dan sekian.

Nb: Foto ilustrasi tidak relevan dengan isi cerita.