Bintang Pagi.

“Siapa namanya?” tanya beliau.

“Zuhra. Z-U-H-R-A” jawabku.

“Aah, namamu artinya bintang pagi” balasnya sambil tersenyum dan menuliskan namaku di buku catatan yang kusodorkan padanya.

-Untuk Zuhra di Bonn. GM-

photo

Bintang pagi: seperti sebuah sinyal
untuk berhenti. Di udara keras kata-kata berjalan, sejak malam,
dalam tidur: somnabulis pelan, di sayap mega, telanjang,
ke arah tanjung

yang kadang menghilang. Mungkin ada
sebuah prosesi, ke sebuah liang hitam,
di mana hasrat – dan apa saja yang teringat – terhimpun
seperti bangkai burung-burung

di mana tepi mungkin tak ada lagi.
Siapa yang merancangnya, apa yang mengirimnya?
Dari mana? Dari kita? Ada teluk yang tersisih
dan garis lintang yang dihilangkan, barangkali.

Sementara kau dan aku, duduk, bicara,
dalam sal panjang.
Dan aku memintamu: Sebutkan bintang pagi itu,
hentikan kata-kata itu. Beri mereka alamat!

Kau diam. Mungkin ada sejumlah arti yang tak akan hinggap
di perjalanan, atau ada makna, di rimba tuhan,
yang selamanya menunggu tanda hari:
badai, atau gelap, atau –

bukan bintang pagi.

1996

*Puisi ini sempat dibacakan dalam bahasa jerman dan GM menceritakan bahwa puisi ini dibuat saat menunggu temannya yang akan menjemput ajal. Salah satu puisi favorit beliau.

7 Comments

  1. Bagusss!

  2. bereh that lagoe… 🙂

  3. yoklah bg kita hiking bareng. biar kekinian

Leave a trace of your presence...

© 2017 Rambideunt

Up ↑