Aku bukan ahli kopi. Tapi setidaknya aku sudah pernah merasakan bermacam jenis kopi dari berbagai negara yang tersaji dari mesin pembuat kopi di kantorku, yang akupun tak pernah bisa hafal namanya. Lungo, Ristretto hingga decaffeine coffee. Beberapa menawarkan aroma kopi yang kuat, dan beberapa menawarkan rasa yang cocok dilidahku.

Disela takbir yang tak henti bersahut-sahutan menjadi latar belakang malam lebaran kali ini, ibu menyiapkan secangkir kopi sedari tadi. Secangkir kopi gayo yang sudah dingin karena baru kuindahkan setelah asik mengobrol dengan beliau. Sambil bercerita banyak hal, seteguk kopi ini mengalahkan segala aroma dan rasa kopi yang pernah mampir ke indra perasaku. Seteguk yang membawaku berputar kembali ke masa kecil. Rasanya masih sama. Persis rasa kopi yang dulu juga kunikmati di malam Idul Fitri, disuguhkan oleh peracik khas kampung kami, dari sudut meunasah tempat kami berkumpul sehabis lelah berjalan kaki berkeliling kampung meneriakkan gema takbir bersama-sama.

Kopi ini berasa rindu kampung halaman, rasa yang sudah bertahun-tahun aku simpan, yang walaupun dingin, tetap mampu menghangatkan hatiku.

senyumku mengembang, memandang ibuku tercinta yang sudah enam tahun tak melihatku. “Ummi, tambah kopinya”. seruku sambil tersenyum menatap wajah beliau.

Mohon maaf lahir batin.