Saya merasa berhutang budi dengan Traveloka. Tidak bisa dipungkiri, Traveloka adalah salah satu alasan yang menyebabkan kisah cinta saya berakhir dengan mulus, hingga berakhir seperti gambar dibawah ini:

Abaikan kantung mata kami. Itu bonus sepaket yang datang dengan kehadiran si kecil.

Abaikan kantung mata kami. Itu bonus sepaket yang datang dengan kehadiran si kecil.

Kisah ini bermula tahun lalu, saat saya baru menyelesaikan studi saya di Jerman dan kembali ke Indonesia. Bulan Mei 2016 itu, setelah intens berkomunikasi dan bersapa kabar dengan wanita yang terakhir ditemui tujuh tahun lalu, dan entah dengan kekuatan dari mana, langsung saja saya bilang, “Saya mau serius, boleh kami sekeluarga datang kerumah nanti sewaktu saya pulang?” dan ajaibnya dijawab ya, jadilah grusak-grusuk setibanya saya pulang ke Indonesia, menyampaikan peristiwa ini secara mendadak beserta implikasinya kepada orang tua, yang pastinya terkejut walau tetap setuju untuk datang ke Banda Aceh dari Bandung demi melamar seorang gadis untuk anak bungsu tercinta mereka ini.

Terus, dimana Travelokanya? Sebentar. Disinilah sebenarnya mulai inti dari judul blog saya. Saat itu, saya sebagai pemuda yang baru pulang studi diluar, dengan tabungan hasil mencicil kerja part-time disana-sini sambil menyelesaikan kuliah yang tentu tak seberapa ini, pastilah ketar-ketir memikirkan, biaya segala macamnya untuk melamar dan menikahi seorang gadis di pojok barat Indonesia sana. Memang, saya aslinya berasal dari Aceh, dan walau keluarga sudah pindah ke Bandung, bukan perkara mudah mengalokasikan dana untuk bolak-balik melamar dan persiapan pernikahan nanti plus segala tetek-bengeknya itu dengan modal tabungan sendiri, sesuatu yang sudah awal komitmen saya, harus keluar dari kantong saya sendiri, bukan dari uang orangtua.

Mulailah pencarian itu. Pertama yang terlintas adalah dengan menginstal aplikasi Traveloka ke dalam iPhone 4 jadul saya. Nice, things works tho, karena walau iOS iPhone saya sudah kadaluwarsa dan masih terkoneksi dengan akun Jerman, ternyata aplikasi Traveloka tersedia di app store dan bisa diinstal dengan mulus. 10 point untuk Traveloka!

Bukan asal kenapa saya memilih Traveloka dibanding yang lain. Ini juga karena desas-desus yang saya dapatkan dari chat grup alumni yang secara gamblang memuji Traveloka dengan berbagai kemudahan dalam memesan tiket pesawat, termasuk bagaimana Traveloka adalah perusahaan pertama yang saya dengar, tidak hanya menghire para developer atau programmer, tapi juga dengan serius mencari berbagai ahli/akademisi bermacam disiplin ilmu untuk bergabung. Ini adalah nilai plus banget bagi saya. Saat itu tidak banyak (atau bahkan belum pernah terdengar ditelinga saya) perusahaan startup asli Indonesia yang berani menginvestasikan diri dengan mengambil talenta berbakat multi disiplin ilmu untuk menjadi bagian tim development dan riset, hingga bisa menarik lulusan terbaik alumni luar negeri seperti Traveloka sebelumnya. Hail to Traveloka! 100 poin plus untukmu!

Lalu, bagaimana dengan bukti kemudahannya? Sebenarnya sebelumnya saya agak skeptis. Sebagai orang yang terbiasa mencari promo tiket pesawat murah untuk berlibur di Eropa, saya sudah terbiasa membanding-bandingkan beberapa web pencari tiket, atau langsung mencari ke maskapainya sendiri. Boleh dibilang, saya adalah seasoned hunter dalam bidang memburu tiket pesawat murah se-eropa. Jadi awalnya dengan sedikit arogan dan meremehkan, saya memandang aplikasi pencari tiket pesawat Traveloka dengan sebelah mata terpicing dan tidak berharap banyak. Saya sudah siap lembur malam itu membuka satu persatu web maskapai penerbangan dan membandingkan masing-masing harganya, untuk tiket 3 orang PP Bandung-Banda Aceh.
Ternyata eh ternyata, minuman itu haram… Bukan. Ternyata, Traveloka melebihi semua ekspektasi saya. Semua pilihan maskapai tersedia dan dikomparasi dengan baik, berdasarkan data termurah, dan nyatanya, bahkan harga yang tertera di Traveloka, masih lebih murah dibanding saat saya membuka web maskapai penerbangan tersebut. What kind of sorcery is this?
BOOM. M i n d. B l o w n.
1000 poin Traveloka!

Selesai? Tidak sampai disitu saja. Saat selesai booking dan akan membayarkan biaya yang tertera untuk pembelian tiket, ternyata harga yang akan dibayarkan mendapat potongan harga (diskon) lagi, dan Traveloka dengan gagahnya menawarkan update harga dari maskapai yang lebih murah pada saya. Whaaaaat? hampir saya menampar muka sendiri untuk menyadarkan apa ini cuma mimpi, atau apa Traveloka ini semacam scam? Untuk saya yang sedang berada dalam tight budget, kemurahan hati Traveloka memotong beberapa ratus ribu dari harga tiket yang sudah murah, semacam keajaiban tersendiri. Dalam hati saya membatin. “Susunan bintang sudah berjejer dalam satu baris. Segala macam kemudahan menghampiri. Memang wanita itu sudah jodoh saya”.
1000 point lagi Traveloka. Saya sedang bermurah hati.

Jadi, tibalah saat itu. Dengan bantuan Traveloka, beberapa hari setelah mendarat di Banda Aceh, tanggal 30 Juni saya mengutarakan maksud kedatangan saya kepada wanita itu dan keluarganya, and she said yes! A BIG MOTHERBLESSING YES! Dan tambahan berjuta-juta poin untuk Traveloka.

It's a yes, ladies and gentlemen!

It’s a yes, ladies and gentlemen!

Dan itulah nak, how I married your mother. (And how booking plane tickets via Traveloka Apps helps.)