Author: rambideunt (page 1 of 9)

Bagaimana Traveloka Menyelamatkan Kisah Cinta Saya

Saya merasa berhutang budi dengan Traveloka. Tidak bisa dipungkiri, Traveloka adalah salah satu alasan yang menyebabkan kisah cinta saya berakhir dengan mulus, hingga berakhir seperti gambar dibawah ini:

Abaikan kantung mata kami. Itu bonus sepaket yang datang dengan kehadiran si kecil.

Abaikan kantung mata kami. Itu bonus sepaket yang datang dengan kehadiran si kecil.

Continue reading

Advise About Family From Clay Christensen

“I graduated from the MBA program at Harvard in 1979… When we came back for our 5th reunion, man, everyone was happy! Most of my classmates had married people who were much better looking… they were doing well in their career. But as we hit the 10th, and 15th, and 20th and then the 25th anniversaries, oh my gosh, my friends were coming back not happy with their lives. Very many of them had gotten divorced. Their spouses had remarried, and they were raising my classmates’ children on the other side of the country, alienated from them.

“And, I guarantee, that none of my classmates ever planned when they graduated from the business school to get divorced, and have children who hate their guts and are being raised by other [people]. And yet a very large proportion of my classmates implemented a strategy that they had never planned to do.

“And it turns out that the reason why they do that is the very same mechanism; that is the pursuit of achievement. Everyone here is driven to achieve. And when you have an extra ounce of energy or an extra 30 minutes of time, instinctively and unconsciously you’ll allocate it to whatever activities in your life give you the most immediate evidence of achievement. And our careers provide that most immediate evidence of achievement. We close a sale. We ship a product. We finish a presentation. We close a deal. We get promoted. We get paid. And our careers provide very tangible, immediate achievement.

“In contrast, investments in our families don’t pay off for a very long time. In fact, on a day-to-day basis, our children misbehave over and over again. And, it really isn’t until 20 years down the road that you can look at your children and be able to put your hands on your hips and say, “We raised great children!” But on a day-to-day basis, achievement isn’t at hand when we invest in relationships with our families, our children, and our spouses. And, as a consequence, people like you and I, who plan to have a happy life, because our families truly are the deepest source of happiness in our lives, find that though although that’s what we want, the way we invest our time, our energy, and talents causes us to implement a strategy we wouldn’t at all plan to pursue.”

Oh-my-ZSH! my bash-profile won’t updated automatically!

oh-my-zsh is a beautiful framework for zsh shell in a Unix platform. As they said, it will beautifully upgrade your experience in using the shell with many-many functionality including auto complete command for popular package such as Git, php, etc.

But there is one caveat in using this shell rather than the default bash shell. The .bash_profile File! I mean that I spent hours of scratching my head to find what is wrong with my $PATH configuration that even though I am updating the php to version 5.6, yet when I try to check it in terminal by typing php -v, the return is always 5.5.31. Continue reading

Secangkir Kopi

Aku bukan ahli kopi. Tapi setidaknya aku sudah pernah merasakan bermacam jenis kopi dari berbagai negara yang tersaji dari mesin pembuat kopi di kantorku, yang akupun tak pernah bisa hafal namanya. Lungo, Ristretto hingga decaffeine coffee. Beberapa menawarkan aroma kopi yang kuat, dan beberapa menawarkan rasa yang cocok dilidahku.

Disela takbir yang tak henti bersahut-sahutan menjadi latar belakang malam lebaran kali ini, ibu menyiapkan secangkir kopi sedari tadi. Secangkir kopi gayo yang sudah dingin karena baru kuindahkan setelah asik mengobrol dengan beliau. Sambil bercerita banyak hal, seteguk kopi ini mengalahkan segala aroma dan rasa kopi yang pernah mampir ke indra perasaku. Seteguk yang membawaku berputar kembali ke masa kecil. Rasanya masih sama. Persis rasa kopi yang dulu juga kunikmati di malam Idul Fitri, disuguhkan oleh peracik khas kampung kami, dari sudut meunasah tempat kami berkumpul sehabis lelah berjalan kaki berkeliling kampung meneriakkan gema takbir bersama-sama.

Kopi ini berasa rindu kampung halaman, rasa yang sudah bertahun-tahun aku simpan, yang walaupun dingin, tetap mampu menghangatkan hatiku.

senyumku mengembang, memandang ibuku tercinta yang sudah enam tahun tak melihatku. “Ummi, tambah kopinya”. seruku sambil tersenyum menatap wajah beliau.

Mohon maaf lahir batin.

Last Day In Mapudo Office

Photo 20.05.16 19 06 27Hari ini hampir setahun aku bekerja di kantor ini. Kantor startup kecil di Schwanenhöfe, gedung bekas pabrik sabun yang disulap menjadi tempat tinggal dari banyak perusahaan-perusahaan startup di Düsseldorf. Kantor kecil yang bergerak di bidang jual beli material metal online (“Mapudo stands for Material Product Online, something that I have to think hardly for few days, to come up with a name that easy to pronounce but still available in the web”. Kata Martin, saat aku dengan penasaran bertanya padanya apa arti dari kata Mapudo. dan lalu aku bilang, “Now I could sleep well knowing what Mapudo stands for, Martin. hahaha!”) dengan pegawai kurang lebih 10 orang dan prospek menjanjikan dan sokongan dana dari banyak perusahaan ternama.

Teringat saat pertama diwawancara via skype, pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang konsep Javascript yang bisa kujawab pelan-pelan. dan tak disangka mereka mau menerimaku untuk menjadi pegawai part time disini dengan status student assistant.

Oh ya kita bicara tentang hari terakhir.

Aku sengaja datang sejam lebih telat dari biasanya untuk meyakinkan bahwa semua orang sudah tiba di kantor. Toh hari terakhirku disana juga hanya mengurus beberapa masalah administrasi dan data terkait pekerjaan yang sudah aku lakukan. Tak seperti biasanya semua pegawai yang biasanya sibuk diluar juga hadir disitu. Kebetulan, aku bawa dadar gulung yang sudah dipesan kemaren dari keluarga Sigit, kenang-kenangan kue khas tradisional Indonesia yang manis, cocok bagi lidah mereka.

Setelah handling data dan dokumen beres, aku dipanggil kedua bosku untuk masuk ke ruangan meeting. Mereka tanya, apa saran dan kekurangan kantor ini selama aku bekerja disana? Oh, jawabku cepat tanpa berpikir. “Everything is perfect. I am glad that I have my last Job in Germany working with you guys. It was awesome. I learnt so many things that I would not learn anywhere else!” Jawabku jujur.

Yap. Benar. Dari awal bekerja disitu, entah karena memang tim web developmentnya kecil jadi yang diserahi tugas untuk mengurus front-end developmentnya hanya  dua orang saja, jadi semuanya berlangsung dinamis tanpa putus. Aku belajar banyak hal praktis yang sangat membuka mataku dan membuatku menggilai pemrograman. Mulai dari hal implementasi manajemen kerja semacam metode SCRUM dengan ticketing dan progress reportnya, kerapian mengcoding dan menata commit code di GIT agar mudah dipahami dan  terstruktur rapi. Belum lagi belajar framework dan library-library baru yang seru semacam Angular dsb lebih dalam lagi, hingga migrasi ke Typescript dan struktur yang baik dan benar dalam meng-coding yang membuka mataku, bahwa pengetahuan pemrogramanku masih seujung kuku. Bahkan untuk sekedar merangkai style CSS saja, kita menerapkan metoda BEM, sesuatu yang sama sekali baru buatku. Sungguh, bekerja disini adalah pertama kalinya aku menunggu hari-hari kerja karena setiap saat aku mulai duduk di bangku kerjaku, ada saja hal-hal baru yang aku pelajari dan tantangan-tantangan memecahkan masalah yang membuatku tidak pernah bosan.

Yang membuatku bertambah nyaman adalah bahwa semua pekerja dan pemimpin di sini sangat ramah dan tidak kaku. Flat hierarki istilahnya. Kapan saja aku bisa datang ke meja bosku yang kursinya memang hanya beberapa langkah dan menanyakan berbagai hal tanpa merasa ada batas. Makan siangpun biasanya dilakukan bersama secara sederhana.

Itu pula yang aku sampaikan ke mereka berdua. Bahkan, minggu lalu semua pegawainya sepakat mengadakan pesta farewell kecil-kecilan dan menghadiahkan sebuah buku bagus tentang Düsseldorf untukku. Memang, tempat kerja ini cukup jauh karena aku tinggal di Bonn yang memakan waktu jarak sejam bepergian dengan kereta, tapi tak sebanding dengan ilmu dan kenyamanan kerja yang kudapat.

Satu hal lagi yang membuatku terharu saat berada di ruang meeting bersama kedua bos itu, Martin, si pendiri startup itu dengan senyum simpatiknya bilang. “We are happy to have you here. We know that you have to come back home for good but anytime you  change your mind, let us know and we would be happy to find a place for you in our company. consider this as an open invitation for you :)” Disambung dengan kata pujian dari Markus, penanggung jawab software development yang bilang “We are very satisfied with your work, even though you are a student assistant, we gave you difficult workloads like a regular employee and you manage to do that”
Wow, aku merasa hasil kerjaku sangat dihargai dan ini merupakan sanjungan ultimate yang tak mungkin aku lupakan seumur hidupku, hingga aku kehilangan kata-kata untuk membalasnya. Mana ada tempat lain di Jerman setahuku yang menawarkan tawaran semacam itu? Luar biasa 🙂

Ya, aku meninggalkan kantor itu setelah berjabat tangan dengan semua pekerjanya. pekerja yang dengan hangat menerimaku dan  dengan hangat juga melepasku semua hingga aku mengucapkan kata goodbye dan keluar dari pintu gedung.

Auf Wiedersehen, Mapudo!

Fun Tips Using Google Icon Without Attaching Icon Set

 

Go to design.google.com/icons/ then pick your poison!
material-icons

May the 4th be with you!

Apparently, 4th of May is the day I complete my (long overdue) Jedi master training…
May the fourth be with you!

jedi

Remah-remah #3

Alkisah, suatu hari seorang pemuda membawa misi penting. Tetua di kampungnya menceritakan sebuah legenda bahwasanya di puncak gunung yang terletak di atas desa mereka, terdapat sebuah gua ajaib. Gua itu berisi banyak sekali kodok. Barangsiapa yang berhasil melintasi gua itu hingga ujungnya tanpa sekalipun menginjak seekor kodok, maka orang beruntung itu akan mendapatkan jodoh seorang wanita cantik jelita. Semakin jauh seseorang melangkah tanpa menginjak kodok, maka semakin cantik jelitalah jodohnya itu. Sayangnya hingga kini, tiada satu orangpun yang secara sempurna bisa melintasi gua yang gelap itu. Tergoda oleh iming-iming cerita tersebut, pemuda kampung inipun mencoba peruntungannya. Pemuda ini berharap, setidaknya walaupun ia gagal, ia bisa melangkah cukup jauh hingga bisa mendapatkan ganjaran yang cukup bagi dirinya.

Bermodal nekat, pemuda inipun masuk ke dalam gua itu dan, entah karena keberuntungan apa, ia berhasil dan menjadi orang pertama yang bisa menerobos gua ajaib itu tanpa sekalipun menyentuhkan kakinya dengan kodok-kodok yang ada di dalam sana.

Seperti janji legenda tersebut, singkat kata, pemuda ini akhirnya dapat memperistri seorang wanita sempurna yang setia mendampinginya. Ia pun menjadi sangat terkenal di desa tersebut. Hingga suatu hari…

Seorang teman dekatnya yang penuh rasa penasaran mencoba bertanya kepada istri pemuda tersebut. Kenapa ia mau-maunya menerima pinangan pemuda kampung yang sederhana, dengan wajah biasa saja ini, tentu  tidak sebanding dengan apa yang dimiliki oleh si pemudi tersebut.

Sambil tersipu-sipu, wanita itu menjawab: “Sebenarnya, saya juga mengikuti saran legenda itu tuan. Akan tetapi saat saya baru saja selangkah masuk ke dalam gua, kaki saya terpeleset dan secara tidak sengaja menginjak salah satu katak yang berjaga di depan gua”.

Dik, mudah-mudahan kamu berjodoh denganku bukan karena menginjak kodok di depan gua ya… 🙂
(karena walau aku beruntung bisa mendapat wanita seperti legenda diatas tanpa harus melintasi gua ajaib, aku juga setidaknya tidak jelek-jelek amat kan ya?)

Quote of the Day: Hamka

Kerana apabila saya bertemu dengan engkau, maka matamu yang sebagai bintang timur itu sentiasa menghilangkan susun kataku – Hamka, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Bahamish

It has been a long period since the last time I took a pencil and doing a sketch. Rusty but felt so good!!

The picture I draw taken from a photo series in www.electronicintifada.net. This photo of a girl in kafiyyeh throwing stones using catapult against oppressive military is really awesome but also very sad because I could not comprehend how they live everyday life with this. Bless you all Palestinian!

On a second unrelated note, I just realized I have reached 10 years landmark since the first time I started blogging. Holly molly guacamole!

Older posts

© 2017 Rambideunt

Up ↑