Author: rambideunt (page 2 of 9)

Bintang Pagi.

“Siapa namanya?” tanya beliau.

“Zuhra. Z-U-H-R-A” jawabku.

“Aah, namamu artinya bintang pagi” balasnya sambil tersenyum dan menuliskan namaku di buku catatan yang kusodorkan padanya.

-Untuk Zuhra di Bonn. GM-

photo

Bintang pagi: seperti sebuah sinyal
untuk berhenti. Di udara keras kata-kata berjalan, sejak malam,
dalam tidur: somnabulis pelan, di sayap mega, telanjang,
ke arah tanjung

yang kadang menghilang. Mungkin ada
sebuah prosesi, ke sebuah liang hitam,
di mana hasrat – dan apa saja yang teringat – terhimpun
seperti bangkai burung-burung

di mana tepi mungkin tak ada lagi.
Siapa yang merancangnya, apa yang mengirimnya?
Dari mana? Dari kita? Ada teluk yang tersisih
dan garis lintang yang dihilangkan, barangkali.

Sementara kau dan aku, duduk, bicara,
dalam sal panjang.
Dan aku memintamu: Sebutkan bintang pagi itu,
hentikan kata-kata itu. Beri mereka alamat!

Kau diam. Mungkin ada sejumlah arti yang tak akan hinggap
di perjalanan, atau ada makna, di rimba tuhan,
yang selamanya menunggu tanda hari:
badai, atau gelap, atau –

bukan bintang pagi.

1996

*Puisi ini sempat dibacakan dalam bahasa jerman dan GM menceritakan bahwa puisi ini dibuat saat menunggu temannya yang akan menjemput ajal. Salah satu puisi favorit beliau.

Froth

Froth

My idea is a froth. it’s satisfying, looks good but worthless.

Catatan Kaki Ramadhan Ini

Zuhra, ingat apabila kamu marah dan berlaku kasar atau membuat orang lain merasa tidak nyaman, ingat karena kamu lupa, setiap bacaan kitab sucimu selalu dimulai dengan memuji Dia yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang setidaknya kamu lafazkan berkali-kali dalam shalatmu. Maka bila hal ini yang terjadi, barangkali kamu berlaku sia-sia dengan ibadah rutinmu, atau kamu sudah terlalu lama membiarkan kitab sucimu tidak dibuka dan merenungi isinya.

Yesterday, in Düsseldorf

Everybody Has Something To Do

Snap this gem in front of Kölner Dom

Snap this gem in front of Kölner Dom

Laki-laki paruh baya itu kurus, duduk di tepi tangga di dalam kereta kelas ekonomi yang penuh sesak. Tangan kirinya menggenggam gitar tua dengan stiker Ich Liebe Stuttgart, sedang tangan kanannya bolak-balik menaikkan kaleng bir ke dalam mulutnya.

Continue reading

Bonn Zentrum

Benarlah bahwasanya disaat penat, salah satu obat paling ampuh adalah dengan menelusuri malam di pusat kota, dimana etalase toko yang sudah tutup merupakan teman yang setia mengalihkan beban di otakku. salah satu toko yang akan gulung tikar mengiklankan pegawainya jika ada perusahaan yang tertarik memakai jasa pegawai mereka. dan pikiranku melayang membayangkan para pekerja ini yang mungkin saja menjalani malam natal mereka tidak dengan seceria tahun-tahun sebelumnya. Di lain tempat, toko Kebab langganan menawarkanku roti sebagai tambahan gratis makan malam kali ini karena sepinya pengunjung di kedai mereka. Tidak ada tujuanku yang jelas malam ini, kecuali menyusuri jalan-jalan kecil di pusat kota Bonn yang sepi karena malam ini adalah malam natal. sibuk mengisi benak dengan pikiran apapun selain tugas-tugas yang harus kuselesaikan. Bau ganja menghampiri hidung, seorang anak muda setengah sadar sibuk meracau.  Pasangan-pasangan berjalan bergandengan tangan, beberapa dari mereka memandangi barang yang dipamerkan di etalase yang tutup. Entah mereka saling membayangkan suatu saat nanti akan mempunyai cukup uang untuk membeli barang yang mereka idamkan.

Menerawang, aku memandangi lama remote warna-warni yang dipajang disalah satu toko dan setelah lama kusadari, ternyata benda warna-warni dengan beraneka tombol yang kuamati bukan remote. melainkan vibrator yang dijual di sexshop. Benar-benar random.

Ludwig and Me

Eid 2013. Bonn

Eid 2013. Bonn

Kura-Kura Ninja!

Kita mulai dengan ini:

Oke, oke…

Anak muda itu sambil tersenyum tersipu mengakui, bahwa selalu ada tempat spesial di dalam dirinya untuk Kura-Kura Ninja. Leonardo, Michaelangelo, Raphael dan Donatello adalah empat ninja hijau favorit yang secara sadar atau tidak, punya kenangan tersendiri bagi dirinya.

Dahulu kala, disaat intro lagu tadi diputar, saat itu juga ia bakal meloncat dan berlari ke arah televisi tanpa memperdulikan apapun lagi, tidak mandi, PR atau kegiatan lain. Dari keempat mutan itu pulalah, yang menanamkan rasa penasaran dirinya akan rasa Pizza, yang terlihat lezat sekali di tayangan televisi tersebut. Makanan antah berantah yang pertama kali si anak muda itu akhirnya bisa  mencicipnya jauh setelah ia dewasa.

Continue reading

Kölle Alaaf 2012

Little Tigress munching berliner in Köln Festival

a wild Little Tigress munching berliner spotted in Köln Festival

Iceland Day 4: 18 Agustus 2012 – All Roads Lead to Reykjavik! (Part 2 of 2)

 

Seperti yang sudah kami duga sebelumnya, ibukota Iceland sudah padat dengan ribuan orang yang hilir mudik di sekeliling kota. Tidak susah untuk melihat ke arah mana pusat acara nantinya akan dilaksanakan, karena semua orang sepertinya bergerak ke arah yang sama. So, karena kami tiba di sore hari dan sepertinya festival musiknya akan dimulai beberapa jam lagi, kami gunakan kesempatan yang ada untuk berkeliling seputar kota. Taman kota, jalan-jalan utama, semua kami sambangi. Sampai akhirnya, kami tiba di main venue. Alun-alun kota Reykjavik.

Udara yang panas di sore itu membuat pelataran yang berupa bukit yang menghadap ke arah main stage sudah mulai penuh berisi muda-mudi dan keluarga yang memang menunggu dimulainya acara, atau sekedar berjemur di bawah teriknya matahari. Aku duga cuacanya berkisar antara 20-23 derajat. Musisi yang akan tampil pun sudah mulai menapak ke panggung dan melakukan check sound.

Continue reading

Older posts Newer posts

© 2017 Rambideunt

Up ↑