Category: Contemplation (page 1 of 4)

Secangkir Kopi

Aku bukan ahli kopi. Tapi setidaknya aku sudah pernah merasakan bermacam jenis kopi dari berbagai negara yang tersaji dari mesin pembuat kopi di kantorku, yang akupun tak pernah bisa hafal namanya. Lungo, Ristretto hingga decaffeine coffee. Beberapa menawarkan aroma kopi yang kuat, dan beberapa menawarkan rasa yang cocok dilidahku.

Disela takbir yang tak henti bersahut-sahutan menjadi latar belakang malam lebaran kali ini, ibu menyiapkan secangkir kopi sedari tadi. Secangkir kopi gayo yang sudah dingin karena baru kuindahkan setelah asik mengobrol dengan beliau. Sambil bercerita banyak hal, seteguk kopi ini mengalahkan segala aroma dan rasa kopi yang pernah mampir ke indra perasaku. Seteguk yang membawaku berputar kembali ke masa kecil. Rasanya masih sama. Persis rasa kopi yang dulu juga kunikmati di malam Idul Fitri, disuguhkan oleh peracik khas kampung kami, dari sudut meunasah tempat kami berkumpul sehabis lelah berjalan kaki berkeliling kampung meneriakkan gema takbir bersama-sama.

Kopi ini berasa rindu kampung halaman, rasa yang sudah bertahun-tahun aku simpan, yang walaupun dingin, tetap mampu menghangatkan hatiku.

senyumku mengembang, memandang ibuku tercinta yang sudah enam tahun tak melihatku. “Ummi, tambah kopinya”. seruku sambil tersenyum menatap wajah beliau.

Mohon maaf lahir batin.

Bintang Pagi.

“Siapa namanya?” tanya beliau.

“Zuhra. Z-U-H-R-A” jawabku.

“Aah, namamu artinya bintang pagi” balasnya sambil tersenyum dan menuliskan namaku di buku catatan yang kusodorkan padanya.

-Untuk Zuhra di Bonn. GM-

photo

Bintang pagi: seperti sebuah sinyal
untuk berhenti. Di udara keras kata-kata berjalan, sejak malam,
dalam tidur: somnabulis pelan, di sayap mega, telanjang,
ke arah tanjung

yang kadang menghilang. Mungkin ada
sebuah prosesi, ke sebuah liang hitam,
di mana hasrat – dan apa saja yang teringat – terhimpun
seperti bangkai burung-burung

di mana tepi mungkin tak ada lagi.
Siapa yang merancangnya, apa yang mengirimnya?
Dari mana? Dari kita? Ada teluk yang tersisih
dan garis lintang yang dihilangkan, barangkali.

Sementara kau dan aku, duduk, bicara,
dalam sal panjang.
Dan aku memintamu: Sebutkan bintang pagi itu,
hentikan kata-kata itu. Beri mereka alamat!

Kau diam. Mungkin ada sejumlah arti yang tak akan hinggap
di perjalanan, atau ada makna, di rimba tuhan,
yang selamanya menunggu tanda hari:
badai, atau gelap, atau –

bukan bintang pagi.

1996

*Puisi ini sempat dibacakan dalam bahasa jerman dan GM menceritakan bahwa puisi ini dibuat saat menunggu temannya yang akan menjemput ajal. Salah satu puisi favorit beliau.

Catatan Kaki Ramadhan Ini

Zuhra, ingat apabila kamu marah dan berlaku kasar atau membuat orang lain merasa tidak nyaman, ingat karena kamu lupa, setiap bacaan kitab sucimu selalu dimulai dengan memuji Dia yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang setidaknya kamu lafazkan berkali-kali dalam shalatmu. Maka bila hal ini yang terjadi, barangkali kamu berlaku sia-sia dengan ibadah rutinmu, atau kamu sudah terlalu lama membiarkan kitab sucimu tidak dibuka dan merenungi isinya.

Everybody Has Something To Do

Snap this gem in front of Kölner Dom

Snap this gem in front of Kölner Dom

Laki-laki paruh baya itu kurus, duduk di tepi tangga di dalam kereta kelas ekonomi yang penuh sesak. Tangan kirinya menggenggam gitar tua dengan stiker Ich Liebe Stuttgart, sedang tangan kanannya bolak-balik menaikkan kaleng bir ke dalam mulutnya.

Continue reading

Kura-Kura Ninja!

Kita mulai dengan ini:

Oke, oke…

Anak muda itu sambil tersenyum tersipu mengakui, bahwa selalu ada tempat spesial di dalam dirinya untuk Kura-Kura Ninja. Leonardo, Michaelangelo, Raphael dan Donatello adalah empat ninja hijau favorit yang secara sadar atau tidak, punya kenangan tersendiri bagi dirinya.

Dahulu kala, disaat intro lagu tadi diputar, saat itu juga ia bakal meloncat dan berlari ke arah televisi tanpa memperdulikan apapun lagi, tidak mandi, PR atau kegiatan lain. Dari keempat mutan itu pulalah, yang menanamkan rasa penasaran dirinya akan rasa Pizza, yang terlihat lezat sekali di tayangan televisi tersebut. Makanan antah berantah yang pertama kali si anak muda itu akhirnya bisa  mencicipnya jauh setelah ia dewasa.

Continue reading

Catatan akhir Ramadhan : Toleransi ala Rendang

Kamu tau nggak rasanya, kalau tangan kita terulur ke meja makan mau meraih rendang yang tampak menarik, tiba tiba tangan kita di tepuk dengan keras sambil dihardik kasar, “TIDAK BOLEH!”

Sedih, marah, kecewa dan yang pasti harga diri kita pasti terluka. Kalau aku, pastinya aku kehilangan selera untuk memakan rendang itu, dan malah mungkin berjanji tidak akan pernah menyentuh sajian lain di meja tersebut, semenarik apapun kelihatannya karena tak mau kejadian yang sama terulang lagi.

Continue reading

Oh, 2011

Dan disinilah aku, memandangi segala keriuhan kembang api yang menghiasi kota Bonn yang kelabu, dari balik jendela kamar sambil menikmati secangkir teh orange hangat. Menjauh dari hingar bingar keriuhan yang diakibatkan orang-orang yang sibuk menyulut petasan dan menerangi kota hingga suara letupannya dan pijaran cahayanya membuat langit kota ini terang benderang dalam beberapa saat, seolah-olah menjerit melepaskan diri dari tahun yang telah usang, menggantikan kegelapan malam tahun yang lama dengan cahaya di tahun yang baru. Walaupun setelah itu, yang tersisa hanya bau kembang api yang telah disulut dan asapnya yang menyengat, lalu malam kembali gelap, sama seperti malam-malam di tahun yang sudah lewat.

Selamat menikmati tahun baru, buatlah resolusi baru untuk diri sendiri, harapkan perubahan untuk diri sendiri, setidaknya bertekad untuk mengurangi keburukan dan menggantikannya dengan kebaikan, seperti kata Paulo Coelho :

Everything in this visible world is a manifestation of the invisible world, of what is going on in our hearts  and getting rid of certain (*bad*) memories also means making some room for other memories to take their place.

Selamat menikmati tahun baru, Kembang api telah dinyalakan, harapan telah disampaikan ke terang benderangnya langit yang penuhi malam dengan warna cahaya. Saat semua usai dan semua terbangun, tanyalah pada diri sendiri di depan cermin. “aku masih aku yang tahun lalu, atau ini aku yang bersiap menjadi lebih baik, tahun ini dan seterusnya?”

Selamat bercermin esok pagi, dan selamat menikmati tahun baru, Zuhra!

Catatan Pinggir Malam 1 Syawal 1431 H

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00.

Lima menit lagi bus linie 4 jurusan Wehrda-Richtsberg akan mampir di halte depan asrama. Bergegas aku sambar jaket dan memakai sepatu anti hujan, tak lupa mengunci pintu, mematikan air, menyuci baju, menyetrika pakaian, lho? tidak, itu fiktif, kita rewind sedikit: jaket, sepatu dan payung. Cuaca hari ini tidak ramah. Marburg dan sekitarnya dilanda hujan, persis seperti kata ramalan cuaca tadi pagi yang selalu tepat, sayangnya tidak seperti halnya ramalan cuaca di Indonesia yang hasil akhirnya selalu dipengaruhi pawang hujan. 🙂

Continue reading

Cita Cita ku

Dulu, saat seorang anak kecil (termasuk saya) ditanyai oleh orang lain mengenai perencanaan masa depannya, biasanya secara mantap anak itu akan langsung merujuk pada apa yang sedang digandrunginya. Jika ia baru selesai menonton film perang dan menyaksikan jagoannya, seorang polisi dengan seragam lengkapnya menendang pantat pejahat dengan gaya ala Steven Seagal, spontan nak itu mengatakan ingin jadi Polisi. Lain halnya jika baru selesai melihat parade pesawat terbang di TV, maka ia berubah ingin jadi pilot. Kalaupun perempuan, kebanyakan biasanya menyaksikan identifikasi dirinya sebagi ibu dokter atau perawat, yang terlihat dewasa, cantik dan keibuan dalam balutan seragam putihnya.
Continue reading

Stay Hungry. Stay Foolish

Ini soal Pidato Steve Jobs di Stanford University, 12 Juni 2005.
Bagi yang gak tau siapa Steve Jobs, singkatnya, dia adalah pendiri Apple Computer dan Pixar. Udah tau? (makasih buat Dipta yang udah mosting ini di milis Ikugama. really Inspired! untuk lihat lengkapnya, klik videonya disini atau teksnya disini)

Saat itu, pada pidatonya dia nggak memberikan trik dan tips macem-macem cara cepat jadi kaya raya bin sukses. Tapi hanya mengulik tiga kisah dalam hidupnya.

Ini dia tiga cerita itu (singkatnya)

Continue reading

Older posts

© 2017 Rambideunt

Up ↑