Category: Contemplation (page 2 of 4)

Orkestra Kehidupan

Hidup ini adalah sebuah orkestra. kalau kalian mengerti maksudku. Ya. Kehidupan adalah soal harmonisasi bunyi-bunyi dalam satu paduan yang berupaya menghasilkan melodi yang indah, menyempurnakan sebuah komposisi lagu dari Sang Pencipta.
Ini adalah tentang menyatukan alat musik harmonis bas, gitar, piano, suling, biola, terompet, dengan perkusi drum, tom-tom, simbal serta memadukannya dengan vokal si penyanyi.
Continue reading

What if I Know How I Die?

Seperti apa kehidupan kita seandainya kita mengetahui masa depan kita? Inilah yang tiba-tiba aku tanyakan karena baru aja aku bangun dari tidur dan mimpi, mimpi tentang hal itu, dan menurutku, jika kita bisa mengetahui masa depan – dalam hal ini berupa ramalan- tntang seperti apa akhir dari hidup kita masing-masing, tentu hal ini bakal jadi sebuah mimpi buruk…
Continue reading

Mie Instan dan Tahun Baru

Ada yang melewatkan waktu pergantian tahun dengan ikut berdesak-desakan di jalan raya atau alun alun sekedar ikut membunyikan terompet saat tahun baru tiba. ada juga yang ikut kemeriahan meriuhkan suasana dengan menyalakan kembang api. Tapi di sini, di kosanku, tepatnya pada jam 00.00 WIB setelah ikut tertawa singkat bersama beberapa teman-temanku dengan alasan “Pergantian tahun harusnya dimulai dengan tawa” agar kesedihan di tahun lalu terlupakan sejenak, aku kembali lagi ke kamarku.
Kali ini hanya ditemani sebungkus mie instan yang diseduh. Continue reading

Mari berubah!

2 tahun sejak tsunami itu bertamu ke tanah tercinta.

2 tahun itu, apa yang kita dapat sekarang? banjir yang menewaskan lebih 100 orang. emang yang datang akhir tahun ini gak didahului beberapa skala richter guncangan, tapi efeknya tetap aja puluhan ribu orang mengungsi.

puas lihat penderitaan? puas menderita?

nggak.

Bagi Allah, nggak ada yang namanya berhenti memberi peringatan pada kita, selama kita lupa, dan harus terus diingatkan.
Kita ini emang keterlaluan ya… Continue reading

Hari Untuk IBu [part 2]

Terburu2 untuk postingan sebelumnya, aku ingat-ingat lagi percakapanku dulu sekali dengan ibu.

“Mi, ummi mau aku jadi seperti apa, atau ada hal yang ummi ingin aku lakukan agar ummi bisa gembira?”

Dengan tatapan mata yang lembut, ummi cuma bilang:

“Nggak dek, ummi udah bahagia dengan keadaan kamu yang seperti sekarang ini. Cukuplah kebahagiaan ummi dengan membesarkan kamu.”

Sekarang kalo kuingat-ingat, aku jadi sentimentil. Ummi gak mementingkan dirinya. Ummi adalah ibu sejati, seperti juga ibu-ibu yang lain di dunia ini yang tulus. Gak kebayang susahnya menjadi seorang ibu, yang kuingat, beliau nggak pernah marah sekalipun padaku. Dalam keadaan aku paling ekstrim bandel sekalipun. Paling-paling beliau cuma diam. Aku gak pernah tau mungkin dalam hatinya beliau marah, sedih atau menangis. Yang jelas, didepan anaknya, beliau selalu kelihatan tegar dan selalu tersenyum. Satu-satunya komplain dari beliau adalah keluhan beliau saat capek bekerja. Keluhan ringan yang bagiku kedengarannya bukan seperti keluhan, hanya ucapan sayang jika ingin lebih dekat denganku.

Ummi, sekarang aku masih jauh disini. Maafkan anakmu ya, kalo sekarang sebenarnya ada hal-hal yang nggak diharapkan olehmu, tapi masih aku kerjakan.. mohon maaf ya ummi. Aku ingiiin selalu membahagiakan dirimu. Paling-paling yang bisa kulakukan adalah memanjatkan doa itu lagi dan lagi.

Allahummaghfirli dzunubi waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani saghira…

mudah-mudahan aku bisa termasuk anak shaleh yang doanya pada orangtuanya diterima Allah. Amin.

selamat hari ibu, ummi.

11/9 2001 dan soal Jihad

Sampai dengan malam ini, tadinya aku mengidolakan para pelaku pengeboman 11/9 2001. Kupikir, mereka pelopor. Saat dunia ditekan oleh kapitalisme, dua pesawat bagai burung menghajar telak pusat simbol kesombongan biang kapitalis itu. Dalam bayanganku, “Inilah mereka, orang-orang terpilih yang merelakan hidup mereka untuk memberi pelajaran berharga pada Amerika, dan negara-negara penganut paham liberal. Ada kami (atas nama Islam) yang tidak tinggal diam”.
Continue reading

Dont Follow the Crowd

Ini adalah judul di kaos yang aku pake. Kaos lecek warna hitam favoritku ini membuat aku merenung pagi ini. Makna dari kaos ini terhadap aku apa? Kenapa aku pake? Tanpa sadar, aku udah menyalahi kata-kata dari kaos yang kupakai ini. Sering aku menjadi pengekor orang lain. Aku bertindak bukan karena mengikuti apa yang aku inginkan, tapi atas dasar karena banyak orang yang berbuat seperti itu, lalu aku ikut-ikutan. Malangnya, secara sadar aku tahu bahwa untuk banyak hal, apa yang orang banyak kerjakan, belum tentu sebuah kebenaran yang mutlak. Bicara tentang “the Crowd” , bisa diartikan pula dengan jamaah.

Trus, dont follow the crowd juga berarti memisahkan diri dari jamaah dong?

Ya nggak lah, ini dalam makna yang lebih luas lagi, nggak usah dipersempit dalam maksud jamaah, apalagi jamaah sholat. Sama seperti la taqrabuzzina, artinya jangan dekati zina. Kalo gitu liat zina dari jauh boleh? Kan nggak gitu maksudnya.

Demikian juga dengan makna don’t follow the crowd ini. Menurutku sih, ini lebih berkaitan sama niat hati, dimana sebaiknya kita melakukan apa yang hati dan tuntunan agama ajarkan pada kita, dengan mencari dasarnya terlebih dahulu. Jangan kita ikut orang padahal kita gak tau sama sekali apa yang mendasari orang lain untuk berbuat seperti itu. Benar kan? So, Dont follow the crowd if the crowd doesn’t make you feel right…

Deal? Deal laaaah….!!

Dunia dan akhirat kita

Tadi aku baru aja berdebat sama temanku. Masalah klasik. Masalah yang udah lama gak ketemu jalan keluarnya bagi mayoritas Islam di Indonesia. Terlebih lagi orang awam macam kita ini.

Ini tentang perkataan (alm) Nurcholis Madjid. “Islam yes, Partai Islam No!”

Nah lo, katanya temenku mendukung pernyataan cak Nur ini, dan aku mendebatnya. Continue reading

Ada Apa Dengan Kita?

Huhu… bukan film Dian sastro yang paling baru sih…

Ceritanya begini…

Sering nggak kita berpapasan sama orang yang berambut pirang, (dicat) trus apa pikiran kita? Bayangan pastinya sih kalo kita terbiasa sama majalah cosmo atau apalah.. .Mikirnya pasti itu gaya.

Tapi kalo kita orangnya konservatif, mikirnya pasti ada yang salah sama tu orang.. Kemungkinan besar sih kita mikir tu orang pasti bukan orang baik-baik… Apalagi kalo cewek. Berambut pirang, ber-rok agak mini, kerja di tempat bilyard lagi.. Kebayang nih cewe pasti murahan.

Pernah kepikiran sama kita nggak bahwa cewe itu pada hari pertama keterima kerjanya, dan dia harus mengecat pirang rambutnya, (dan harus pake rok mini selama masa kerjanya) Dia menangis semalaman. Dia gak rela. Tapi cuma ini yang bisa dia lakukan buat karena mau gak mau dia harus kerja.. Karena gak semua orang mampu membiayai hidupnya sendiri, atau terlahir dengan kekayaan melimpah.

Cerita sinetron? Bukan. Ini penuturan temanku. Sedih emang…

Bayangkan juga gimana orang yang udah terjebak dengan dunia hitam (bukan dukun). Prostitusi misalnya. Wanita yang udah terlanjur merasa kotor dan merasa nggak pantas untuk sekedar bertobat. Karena emang dia nggak punya pilihan lain.

Kedengarannya naif ya, tapi, kalo kita nggak punya solusi lebih baik buat dia, sebaiknya, jangan sembarang mencibir.

Lain kali, kalo ketemu sama orang berambut pirang, atau bertindik, atau bertatto (nah, aku pernah ketemu orang bertato gambar motif batik.. 😀 orangnya lucu juga.), berhusnuzan ajalah. Berbaik sangka aja. Siapa tau dia emang baik, hal yang akhir-akhir ini jarang kita jumpai disekitar kita. Lihat jakarta? Aku males kesana…. bahkan ada orang kesusahan disampingnya aja, orang lain pura-pura gak sadar. Mual aku lihatnya… Kenapa semakin maju orang, semakin berprasangka buruk dia pada orang lain?

Rihard De Haan

Kata seorang penulis tak bernama:

Lebih baik kumiliki setangkai mawar mungil dari kebun seorang sahabat
daripada memiliki bunga-bunga pilihan ketika hidupku di dunia harus
berakhir.

Lebih baik mendengar kata-kata yang menyenangkan yang disampaikan
dengan kebaikan kepadaku pada saat aku hidup daripada pujian saat
jantungku berhenti berdetak dan hidupku berakhir.

Lebih baik kumiliki senyum penuh kasih dari sahabat-sahabat sejatiku
daripada air mata di sekeliling peti jenazahku ketika pada dunia ini
kuucapkan selamat tinggal.

Bawakan aku semua bungamu hari ini. Lebih baik kumiliki setangkai
yang mekar saat ini daripada satu truk penuh ketika aku meninggal dan
diletakkan di atas pusaraku.

Older posts Newer posts

© 2018 Rambideunt

Up ↑