Category: Tourism

Bagaimana Traveloka Menyelamatkan Kisah Cinta Saya

Saya merasa berhutang budi dengan Traveloka. Tidak bisa dipungkiri, Traveloka adalah salah satu alasan yang menyebabkan kisah cinta saya berakhir dengan mulus, hingga berakhir seperti gambar dibawah ini:

Abaikan kantung mata kami. Itu bonus sepaket yang datang dengan kehadiran si kecil.

Abaikan kantung mata kami. Itu bonus sepaket yang datang dengan kehadiran si kecil.

Continue reading

Yesterday, in Düsseldorf

Iceland Day 4: 18 Agustus 2012 – All Roads Lead to Reykjavik! (Part 2 of 2)

 

Seperti yang sudah kami duga sebelumnya, ibukota Iceland sudah padat dengan ribuan orang yang hilir mudik di sekeliling kota. Tidak susah untuk melihat ke arah mana pusat acara nantinya akan dilaksanakan, karena semua orang sepertinya bergerak ke arah yang sama. So, karena kami tiba di sore hari dan sepertinya festival musiknya akan dimulai beberapa jam lagi, kami gunakan kesempatan yang ada untuk berkeliling seputar kota. Taman kota, jalan-jalan utama, semua kami sambangi. Sampai akhirnya, kami tiba di main venue. Alun-alun kota Reykjavik.

Udara yang panas di sore itu membuat pelataran yang berupa bukit yang menghadap ke arah main stage sudah mulai penuh berisi muda-mudi dan keluarga yang memang menunggu dimulainya acara, atau sekedar berjemur di bawah teriknya matahari. Aku duga cuacanya berkisar antara 20-23 derajat. Musisi yang akan tampil pun sudah mulai menapak ke panggung dan melakukan check sound.

Continue reading

Iceland Day 4: 18 Agustus 2012 – All Roads Lead to Reykjavik! (Part 1 of 2)

Lo there do I see my Father
Lo there do I see my Mother, my Sisters and my Brothers
Lo there do I see the line of my people
Back to the beginning
Calling me to join Them
Bidding me to take my place among Them
In the Halls of Valhalla
Where the brave
May live
Forever.

“Viking Death Prayer” – The 13th Warrior

Continue reading

Iceland Day 3: 17 Agustus 2012 – Kemerdekaan di (hampir) Ujung Utara Dunia

Don’t judge the book by it’s cover. Jangan menafsirkan tempat dari namanya. Iceland di musim panas adalah pulau tanpa es, kecuali di beberapa puncaknya. Sebaliknya, Greenland, walaupun ada unsur “green” dalam namanya, sepanjang tahun malah selalu ditutupi oleh es. Entah orang jenius mana yang menamakan kedua pulau ini, masih menjadi misteri bagiku.

Oke, jadilah kami pagi itu berangkat dengan disertai semangat 45. Bukan karena rasa nasionalisme semata, tapi karena malam sebelumnya sudah cukup mendapat istirahat. Tujuan sebenarnya adalah Vik, daerah pantai di timur Islandia yang terkenal sebagai tempat untuk melihat si burung ber tuksedo alias Puffin.

Continue reading

Iceland Day 2: 16 Agustus 2012 – Kabut Kabut dan Kabut

Tahukah kamu, fakta bahwa orang Islandia dapat mencantumkan dengan bebas pekerjaan mereka di buku telefon? Jadi jangan heran di buku telefon mereka, kita bisa menemukan profesi aneh, semacam “Alien Tamer”, atau “Jedi Master”. Haha. Ada-ada saja…

Hari ini, perjalanan kami dimulai pada pagi hari, kira-kira pada pukul 7 pagi. Cuaca tidak bersahabat. Jalanan dipenuhi dengan kabut. Dalam hati aku merasa agak sedikit kecewa membayangkan apa jadinya hari ini jika sesampai di tujuan kami selanjutnya, objeknya tertutup kabut tebal.

Untungnya, kekhawatiranku tidak menjadi kenyataan. Beberapa jam kemudian, seiring dengan makin tingginya matahari, kabut yang tadinya menyelimuti Islandia mulai hilang, berganti dengan panas dan sinar matahari.

Continue reading

Iceland Day 1 – 15 agustus 2012 – Enter the Land

Road to Reykjavik

Pagi itu, kami berangkat meninggalkan Jerman melalui bandara Bonn-Köln pada pukul 00:30 menggunakan pesawat Iceland express. Tiga orang Indonesia: aku, Glenn dan Ardi, satu orang Ukraina: Nataliia, dan seorang lagi berkebangsaan India: Vyshantha. Yang aku herankan, sebenarnya harga tiket pesawatnya terhitung murah, sekitar 34 euro, atau circa 400 ribu rupiah untuk penerbangan selama 3,5 jam. Yang membuat mahal adalah harga airportnya. Jadilah tiket penerbangannya membengkak menjadi berkisar 200 Euro untuk tiket PP.

Setiba di bandara yang katanya terbaik di seluruh eropa itu (kategori bandara kecil), tepatnya di Keflavik Aku segera bergegas mengambil barang di bagasi. Urusannya terhitung cepat dan segera setelah dari sana, kami segera keluar untuk kemudian mencari taksi atau bus menuju rumah host kami yang terletak di antara bandara dan Reykjavik. Ternyata memang benarlah perkataan orang-orang bahwa Islandia adalah Negara yang terhitung mahal terutama untuk kantong pelajar. Bayangkan, untuk naik taksi berlima yang perjalanannya membutuhkan waktu kira-kira 15 menit, kami harus merogoh kocek 3500 ISK atau setara 300 ribuan.tapi karena memang tidak ada pilihan lain, waktunya sudah menunjukkan pukul 01:30 dinihari waktu Islandia, terpaksa pilihan itu kami gunakan.

Setibanya di tempat tujuan, sialnya ada kesalahan komunikasi sehingga ternyata si empunya rumah yang kami kenal lewat situs couchsurfing, menyangka kami tiba keesokan harinya. Jadilah kami terpaksa terlunta-lunta di depan pintu rumah calon host kami, karena setelah di telpon beberapa kali, beliau tidak mengangkatnya.

Continue reading

1, 2, 3… Perang Bantaaaaaal!!!!

Bagi yang kurang bahagia masa kecilnya, atau terlalu bahagia malah, pasti pernah bermain sama yang satu ini. Bantal. Iya, siapa sih anak kecil yang nggak pernah main perang-perangan dengan senjata seempuk bantal? Mungkin masih ingat ya saat-saat menimpuk kepala kakak/adik/sodara lain atau temen yg nginep di rumah di tempat tidur dengan menggunakan bantal. Sakit? Tentu tidak. Kalau saja sakit tentu sudah dilarang dalam UUD 1945. Tetap saja ujung-ujungnya biasanya perkelahian akan berhenti jika sudah ada jejeritan yang mengganggu tetangga atau ada pemainnya yang menangis hingga berujung pada omelan yang berkepanjangan dari orangtua di rumah. Apalagi kalau senjata yang digunakan sudah sampai bertaburan di sekujur ruangan.

Tapi, kenapa aku menulis mengenai bantal? Ayo ikut aku,aku ajak kalian mengunjungi event perang bantal yang diadakan di Cologne hari ini.

...dan bulu-bulu beterbangan

…dan bulu-bulu beterbangan

Continue reading

Oh, Ternyata Begini toh Köln Carnival 2011

Kelasi merangkap penabuh drum

Baru saja pulang dari melihat pertama kali karnaval di Jerman. Festival ini bertempat di Köln dan merupakan salah satu festival jalanan terbesar di Eropa. Sebenarnya belum ada gambaran seperti apa festival itu sebelumnya, cuma dengar-dengar aja dari orang-orang yang ramai membicarakannya beberapa hari sebelum karnaval dimulai.

Berangkat dari Bonn sebenarnya sudah cukup terlambat. maklumlah penyakit hari libur, pasti setelah shalat subuh maunya lanjut tidur. Pun akhirnya aku niatkan pergi juga meski pikirku bakal telat, dan akhirnya tepat jam 13 siang, aku berangkat menuju stasiun untuk mencapai Köln.

Ternyata, di dalam bus yang menuju stasiun saja, bus sudah dipenuhi orang-orang yang berpakaian sedemikian rupa. Badut Jester dan seorang polisi gadungan tampak becakap ria ditambah beberapa orang dengan kostum masing-masing pilihannya. Sepanjang jalan, tampak semua orang sibuk bertebaran di jalan dengan busana yang mencolok hingga akhirnya aku perhatikan, tampaknya orang-orang yang “salah kostum” alias hanya berpakaian seperti layaknya orang biasa bisa dihitung dengan jari (tebak, salah satunya itu aku). Waw.

Continue reading

© 2017 Rambideunt

Up ↑